Ahmad Rizki: Doa Minta Kawin dan Puisi Lainnya


Doa Minta Kawin

 

Bunga di taman belakang kuyup cahaya bulan#

Embun basah di sekelilingnya#

Dan cakrawala di atas kasur merona, memesona#

Bibit cinta gugur di tubuhku, dan napas culas menggeliat di kuping dewa dewa#

Dan suara cinta mekar, lebih mekar dari Kamboja di depan rumah#

Dan hari ini aku panen, dan kawin#

Mekar cinta di jiwaku, bumi adalah lautan napsu, dan sepasang pengantin doa kawin, menggoda diriku, dan terselip keinginan di antara udara yang jalan ke langit penuh bintang: doa minta kawin#

 

2016

 

Tiba

 

 —Langkah kaki digital nyaring.

Kuingat, dulu fiksi. Kulihat

zaman jalan di sisi api. Apakah

Ia akan bertanya padaku? Tapi

untuk apa pertanyaan kalau

kebenaran datang?

 

-          Kuingat-ingat—

hari ini arah berganti bentuk, dan

masa depan menanti hari. Kini—

kuingat— yang pasti nyali

nenek moyang masuk ke jiwa.

 

Ingatan dan modal hidup

yang sederhana, kuingat, me-

menjarakan tubuhku. Kebodohan

merangkul diriku, dan teman naif

bertanya: “harus bagaimana, kawan?”

Mengapa

 

-          putus asa? Mereka tak berdaya,

bila nyali dan arah hidup sempurna.

Angka, nilai, nama nama, dan semuanya

hanya hiasan mata, tak berdaya.

Tapi, langit tak akan turun rahmat,

kalau nyali masih begini.

 

-          Kini, semua titik nol. Tidak, maksudku

hanya mengukur ulang, tapi,

bukan dengan pertanyaan yang sama,

tapi dengan nyali yang ber-

api api menyambut masa depan.

 

2021

 

Rahasia

 

cahaya dan

kegelapan adalah

hidupku. Dan jalan

hidup adalah kapal laut

yang bergoyang bersama

angin. Dan hidup adalah kata

rahasia yang nyaring di pinggiran

                               pelabuhan Merak.

 

2017

 

Istana

 

Pintu istana bagai paha

perempuan yang gurih dil

ihat. Dan aku tertawa, ada se

dikit kecewa, ketika keberanian

mataku kabur dari sampingku. La

ntai yang mewah, mengikat kakiku, d

an suara angin nyaring di kuping: Awas!

Dan kegelisahan meniduri nyaliku, seumpam

a daun dikeroyok semut, aku bimbang. Dan sisa

sisa keberanian ditutup kaca peradaban, sambil mer

angkul ia berkata: Nyeri hari ini adalah panen padi mas

a depan. Dan dalam gusar lelaki perkasa tiba, menusukku, ba

             wa undang undang, dan menguburku hidup hidup: mati.

 

2016

 

Ahmad Rizki. Menggelandang di Ciputat. Kini sibuk self healing dan mendalami muara omong kosong di mana-mana. Informasi lebih intim dapat ditilik melalui Instagram @ah_rzkiii


Posting Komentar

0 Komentar