Cerpen Katharina Dwinta: Halte

Bruk!

Semua orang yang ada di kelas XI MIPA 5 menatap salah seorang kawanku yang baru saja datang dan langsung membanting tas sekolahnya pada permukaan meja kayu.

“Sialan! Cewek baju merah sialan!” katanya.

Wajahnya tampak geram. Tangannya mengepal bersiap untuk meninju semua orang yang membuatnya semakin jengkel. Teman-temannya berusaha membuat ia tenang dengan memberi air mineral. Beberapa yang lain memilih tidak peduli karena  ternyata persoalannya tidak jauh dengan urusan laki-laki yang bernama Aryo itu. Persoalan yang senantiasa muncul dalam hidupnya, yang tidak kunjung berakhir. Atau mungkin memang tidak ingin diakhiri.

“Kamu putus?” tanya salah seorang perempuan yang ada di dekatnya, kawan baiknya.

Ia hanya mengangguk. Air matanya mulai membasahi pipi.

“Aryo lihat baju merah di halte?”

Lagi-lagi ia hanya mengangguk tanpa suara.

Ia dan Aryo memang selalu terlibat masalah, namun baru kali ini kami mengetahui bahwa mereka sampai ada di titik perpisahan. Hubungan yang serba merugikan memang harus berakhir, tapi bagi kami perpisahan mereka menjadi menarik karena ada kaitannya dengan halte di depan sekolah.  Lagi-lagi halte di depan sekolah kami berhubungan dengan perpisahan.

***

Banyak murid kembali membahas cerita mitos tentang halte sekolah usai perpisahan salah seorang siswi di kelas kamiMemang ada pendapat lain yang mengatakan Aryo sudah punya selingkuhan. Tapi asumsi paling menarik tetap jatuh pada mitos halte dekat sekolahku itu. Kata orang, halte itu dihuni oleh seseorang yang hidup di jagat tak kasat mata dengan pakaian berwarna merah. Namun bukan urusan jagat lain atau pakaiannya yang menarik, melainkan sesuatu yang akan terjadi ketika seseorang melihatnya. Katanya, setiap orang yang melihat seseorang memakai baju berwarna merah di halte tersebut, entah laki-laki atau perempuan, maka orang itu akan mengalami perpisahan.

Itu adalah alasan mengapa kawannya tadi bertanya soal seseorang berbaju merah di halte. Setiap orang yang merasa pernah melihat seseorang berbaju merah di halte itu, seolah mendapat isyarat perpisahan.

            Halte itu sebenarnya adalah halte tua yang biasa. Memang halte berumur yang kata orang sudah dibangun sejak penjajahan Belanda. Halte itu letaknya tidak jauh dari sekolahku. Hanya perlu berjalan dari sekolah ke arah barat sekitar 10 meter. Siswa di sekolah kami yang berjarak cukup jauh dari rumah ke sekolah, selalu menunggu bus di sana. Halte itu terletak di bawah pohon asem tua  dengan rimbun yang teduh. Palang halte berwarna biru dengan tulisan nama halte berwarna putih. Penjual batagor dan es kelapa muda berjualan di bawah teduh pohon asem, menyambung hidup dari perut lapar dan rasa haus anak-anak sekolah.

Mungkin perpisahannya dengan Aryo dan sosok berpakaian merah terlalu mengada-ada. Semua orang, setidaknya di kelasku, memang sudah tahu jika hubungan mereka tidak baik terutama sejak Aryo diterima sekolah dinas. Namun urusan perpisahan, halte, dan si baju merah ini sudah terjadi oleh banyak orang. Ini bukan cerita baru. Nenekku bahkan mengalami ketika di masa lalu ia bekerja di pabrik jarik yang dulu berdiri di depan halte. Ketika aku menceritakan ‘si merah’ di halte itu, nenekku langsung menceritakan kisah yang bagiku ganjil dan lumayan menyeramkan.

Suatu masa, tentu ketika nenek masih muda, ia melihat seorang laki-laki memakai baju berkerah warna merah duduk di halte itu. Karena saat itu nenek bertugas menjemur jarik di halaman, ia bisa langsung melihat halte itu dari seberang jalan. Kala itu nenek tidak berpikir lebih lanjut soal laki-laki berbaju merah di halte. Namun di malam hari, suaminya atau yang tidak lain adalah kakekku, dijemput dan dibawa paksa oleh polisi. Sejak saat itu nenek tidak pernah melihat bahkan bertemu jantung hatinya lagi sampai saat ini. Kakek hilang tanpa kabar. Suatu ketika seorang tua di kampung bercerita kepadaku bahwa kakek dibawa karena sering menyanyi lagu Genjer-Genjer. Orang-orang memang mengenal kakek sebagai seorang penyanyi keroncong, dan aku tetap tidak paham mengapa seseorang bisa menghilang hanya karena menyanyikan sebuah lagu.

            Kisah perpisahan lain karena seorang berbaju merah di halte juga datang dari beberapa temanku. Salah seorang kawanku melihat seseorang berbaju merah di halte sepulang sekolah, pada hari ketika kawanku memenangkan penghargaan kejuaraan catur. Ia melupakan si baju merah karena hatinya yang gembira ingin segera memamerkan penghargaan itu kepada dua orang tuanya di rumah. Namun sesampainya di rumah, ia justru mendapati rumahnya dalam keadaan sangat berantakan, dengan ayah ibunya yang babak belur dan ditahan oleh tetangga. Pak RT berkata kedua orang tuaku berkelahi hebat. Malam harinya, kawanku harus memilih antara ikut dengan ayah atau ibunya. Si baju merah yang ada di halte membawa pertanda akan perceraian kedua orang tuanya.

Cerita cukup seram datang dari salah seorang guru di sekolahku yang memang gemar bergosip daripada mengajar materi. Guruku bercerita ia melihat sosok bapak-bapak tua berbaju merah di halte selepas magrib. Kala itu guruku pulang larut karena mengurus akreditasi sekolah. Sesampainya di rumah, ia melihat tubuh suaminya terbaring tak bernyawa berlumuran darah di ruang tamu. Kasus ini memang sudah terdengar sejak aku masih SMP. Perampokan dan pembunuhan oleh pesaing bisnis, katanya. Pelaku telah tertangkap dan dipenjara. Namun tidak jarang juga orang yang berpikir bahwa guruku ini justru yang membayar pelaku untuk membunuh suaminya sendiri demi uang asuransi. Lagi-lagi ‘si merah’ di halte itu menjadi isyarat perpisahan.

Meski halte itu dianggap membawa banyak kisah perpisahan, masih banyak teman-teman dan guruku yang menggunakan halte itu untuk menunggu bus yang akan membawa mereka pulang. Lagipula halte memang menjadi tempat berpisah sebelum bertemu dalam satu rutinitas kontinuitas. Datang dan pulang. Berangkat dan pulang sekolah. Kerja dan pulang kerja. Datang berkunjung dan pulang. Segala perpisahan selalu terjadi di halte.

Aku sendiri tidak berharap mengalami hal-hal itu. Aku tidak pernah berharap melihat sosok berbaju merah di halte itu. Setiap kali melewati halte itu, aku selalu mengalihkan perhatianku ke arah lain atau sama sekali tidak menoleh. Aku memang tidak terlalu ingin peduli. Aku tidak ingin tugas-tugas dari pembina OSIS yang memberiku instruksi untuk mempersiapkan rapat, atau hubungan dengan pacarku yang baru saja terjalin, harus terganggu dengan pikiran-pikiran sosok baju merah di halte yang tidak penting dan tidak jelas kebenarannya.

***

“Baik, untuk rapat OSIS hari ini berakhir sampai di sini. Terima kasih teman-teman karena bersedia menyempatkan diri untuk mengikuti rapat pada sore ini. Assalamualaikum.

Waalaikumssalam. Terima kasih Mas Rasdi, jawab teman-temanku.

            Lega sekali rasanya karena rapat ini telah berakhir. Sebagai ketua OSIS baru, aku belum terbiasa dengan rapat beruntun. Masih untung hari ini aku tidak rapat di kabupaten. Kami segera merapikan meja serta kursi di ruang OSIS menjadi seperti semula, lalu, bergegas pulang. Sore terasa nyaman. Sore yang cerah untuk remaja menyelami asmara dengan duduk di alun-alun, menikmati senja dengan tahu petis dan es teh. Aku berjalan santai menuju parkiran. Kulihat semua kelas lampunya telah padam dan pasti pintunya sudah dikunci oleh penjaga sekolah. Tiba-tiba aku teringat pesan dari pacarku dan pesan itu membuatku mempercepat langkah agar aku bisa segera sampai ke parkiran motor. Aku ingin segera pulang dan membahas pesan pacarku yang berencana pindah ke kota iniSetelah sekian tahun pacaran jarak jauh, akhirnya kami bisa ada di kota yang sama. Aku ingin segera pulang dan bertanya kepada pacarku tentang jadwal kepindahannya.

Sesampainya di parkiran, beberapa adik kelas yang tergabung dalam OSIS menyapaku dengan malu dan barangkali bercampur takut. Meski telah berusaha menjadi ketua yang humoris, masih saja ada adik kelas yang melihatku sebagai Rasdi-yang-galak. Inilah yang membuatku awalnya enggan ketika dicalonkan ketua OSIS. Aku tidak ingin menjadi Rasdi yang berjarak dengan orang-orang. Suasana parkiran telah sepi. Aku menuju motor kesayanganku yang terlihat kesepian di parkiran motor yang telah kosong. Aku bergegas menyalakan mesin motor, menaikinya dan mulai meninggalkan area sekolah.

            Sampai di perempatan dekat halte sekolahku, halte perpisahan yang sering dibicarakan, laju motorku melambat karena jalanan lebih ramai dari biasanya. Dua buah mobil berukuran lebar berpapasan dan memenuhi jalanan sekolahku yang tidak terlalu luas. Petugas parkir harus mengoordinasi agar salah satu mobil dapat lewat terlebih dahulu, dan mobil yang lain harus menepi sampai sedikit bergesekan dengan semak belukar di tepi jalan.

Entah bagaimana bisa, mataku langsung menatap halte itu. Kesadaranku baru kembali ketika aku melihat sosok merah di sana. Sudah terlambat bagiku untuk menolehkan pandangan. Mataku sudah menangkap dengan jelas sosok itu, bukan mereka. Sosok berbaju merah itu bukan hanya seorang. Mereka seperti sebuah keluarga yang semuanya mengenakan pakaian merah! Empat orang berpakaian warna merah berdiri di halte itu.  Mereka tidak menatapku. Mereka seolah menunggu bis dari arah utara. Segera kupalingkan dengan kencang pandanganku hingga leherku terasa sakit. Keringat terasa mengalir menuruni leher. Aku sangat ketakutan. Setelah kemacetan dapat berjalan seperti sedia kala, aku segera menambah kecepatan laju motorku. Aku ingin segera pulang. Selain karena hari sudah malam, aku ingin segera meninggalkan tempat itu, atau setidaknya melupakan mereka yang berbaju merah di halte itu.

***

Seluruh warga SMA Negeri 2 berkabung, terutama kelas XI MIPA 5. Rasdi, siswa kelas XI MIPA 5 yang juga ketua OSIS,  meninggal karena kecelakaan motor semalam ketika pulang sekolah. Semua orang berduka atas kepergiannya. Seluruh siswa kelas XI MIPA 5 menangis ketika datang ke rumah Rasdi. Orang tua Rasdi juga terisak memeluk satu per satu siswa di XI MIPA 5. Semua orang kehilangan sosok humoris dan pemimpin yang baik.

Keesokan harinya, wali kelas kami menceritakan kronologi tewasnya Rasdi dalam kecelakaan. Sepulang rapat OSIS, ia melaju kencang dengan motornya pada jalan utama. Tukang becak dekat perempatan melihat Rasdi membawa motor lebih kencang dari biasanya. Ibu-ibu warung tempat langganan Rasdi membeli minuman dingin, juga melihat salah seorang pelanggannya naik motor dengan kencang melewati warung. Ketika memasuki jalan utama, Rasdi menabrak truk yang sedang berhenti di tengah jalan karena mesinnya mogok. Menurut keterangan polisi, Rasdi lalai tidak memperhatikan tanda yang telah dipasang sopir truk pada lima meter di belakang truk. Tanda itu berupa segitiga berwarna merah, tanda yang biasanya digunakan untuk memberikan isyarat bagi pengendara untuk berhati-hati karena ada kendaraan yang mengalami insiden di tengah jalan.

            Motor Rasdi menghantam bagian belakang truk dengan keras. Rumah sakit menyatakan Rasdi meninggal di tempat. Tubuhnya hancur terutama bagian wajah karena helm yang pecah. Motornya ringsek tak berbentuk. Tidak ada yang melihat jenazah Rasdi selain orang tua dan perawat yang bertugas memandikan jenazahnya. Desas-desus seram mengatakan tubuh Rasdi sudah hancur terutama pada tubuh bagian atas, hingga hanya menyisakan tubuh bagian bawahnya.

***

Aku tersentak karena mengingat perasaan jatuh dari motor. Betapa terkejutnya aku ternyata tubuhku bukan tertidur di aspal yang keras, melainkan ada di sebuah tempat yang lain. Aneh. Padahal baru saja aku merasakan tubuhku terhantam benda keras yang luar biasa. Seingatku aku ceroboh karena tidak melihat tanda segitiga merah di jalan yang menandakan bahwa ada kendaraan yang berhenti di tengah jalan. Aku pikir sekarang aku tengah tergeletak di tengah jalan.

Sebuah kursi besi aku gunakan untuk menyeimbangkan diri. Aku segera duduk di atasnya. Bulu kudukku langsung berdiri ketika aku sadar bahwa tempat ini adalah halte di dekat sekolahku. Aku ingin segera beranjak namun seluruh pintu halte terkunci dan tidak bergeming ketika aku mencoba mendobraknya. Kulihat sekeliling dan aku tidak menemukan motor kesayanganku. Aku semakin terkejut ketika menyadari kaus kerah berwarna merah yang melekat di tubuhku. Ingin segera aku melepasnya namun seolah pakaian ini telah menjadi kulit baru bagi tubuhku. Aku tidak bisa melepasnya. Aku mengenakan kaus berkerah merah yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.

Di tengah ketakutan yang meremang aku melihat nenek di seberang halte. Ia berdiri di tengah kibaran jarik yang tertiup angin. Nenek memandangku dengan tatapan ganjil. ** 

Kutoarjo, 06 Januari 2021


Katharina Dwinta adalah siswa SMAN 02 Purworejo. Memenangkan Sayembara Pentigraf Kopisisa Kabupaten Purworejo sebagai peraih juara pertama kategori siswa pada tahun 2021. Aktif mengikuti organisasi di sekolah menengah atas. Saat ini tinggal di Kutoarjo, Jawa Tengah. Menyukai ayam goreng dan minum susu. Bercita-cita menjadi peramal (kalau memang ada sekolahnya). Gemar menonton drama Korea. Memiliki akun Instagram @kathkath.rin.

 

Posting Komentar

0 Komentar