Ahmad Rizki: Aku Mengingatnya Seperti Biasa dan Puisi Lainnya


Aku Mengingatnya Seperti Biasa

Seperti biasa, aku mengingatnya.

Pancaroba kehidupan berjalan

di malam ini. Masa lalu adalah

abu vulkanik yang nempel

di mayat-mayat lelaki, dan

daun-daun peristiwa menguning,

kering.

 

Ingatkah kau, mata lelaki

yang berbaring di pahamu?

Gaun lembut pelan-pelan

membungkus kedamaian.

Sebotol kenikmatan

menjadi pelumas dahaga,

dan daun sirih di sekitar balkon

mengikat mata kita.

 

Musim pancaroba melintas

di sisi alismu. Rasanya, matamu

adalah rumah tua

yang bersarang kelelawar—

ada juga burung-burung gereja

di sisi pelapon—

dan keinginanmu hanyalah bara

api yang mustahil padam.

 

Cahaya dari sebuah bibir,

bersemayam malaikat neraka,

merekah. Kenangan dibentuk

oleh asap tembakau dan air panas.

Di balik bongkahan jiwamu,

serigala wanita bersuara

tiap kesepian.

 

2017

 

Sebuah Kata Sebelum Mati

Adakalanya kau harus

berani memilih beberapa tujuan

untuk kaumasuki pelan-pelan.

 

Beranilah memilih satu pintu

Kesengsaraan.

Jangan protes, nikmati saja.

Keberanian adalah yang utama,

mencoba juga yang utama, apa saja yang kaupilih

 

harus nekat dan penuh risiko,

maka kau akan kuat.

Kau harus memiliki

 

beberapa nyali dan sarat

kehidupan, dan harus kuat,

tak ada yang harus dikhawatirkan,

hidup bukan menang-kalah—

mungkin butuh sebab-akibat—

dalam sebuah permainan,

 

dan ketahuilah pilihan

yang lainnya adalah

ucapan terima kasih

 

dan selamat

malam sebelum kau tidur. Dan

hal yang amat dekat adalah maut.

Sementara itu kau harus melanjutkan

bayar cicilan motor dan uang sekolah, dan lupakanlah malam pengantin,

 

atau pesta ketupat di libur lebaran,

dan yang perlu kau ingat hanyalah

sebuah kata sebelum mati.

 

2017

 

Seperti Biasa

Seperti biasa, jalanan

macet yang kita lewati

melahirkan caci-maki

 

dan

orang-orang yang telat

menuju tempat tujuan gelisah.

Seperti biasa, kita berjalan

pagi hari, kurang tidur dan

mata lengket, tanpa motivasi

 

dan tanpa harapan agung orang

-orang bijak yang kolot.

Hari-hari memang begini,

 

tak ada yang mewah, bergairah

dan estetika. Seperti biasa,

hidup memang sialan.

Waktu dan uang dikejar.

Keyakinan tumbuh saat sekarat.

Seperti biasa, jalan sore

 

yang berisik ini membosankan.

Kuliner yang mahal, dan rokok yang sisa beberapa batang adalah sebuah

 

tradisi pulang kerja sehari penuh.

Tapi, sampai di rumah, tidak

harus tidur dan bermimpi.

Seperti biasanya kita keluar dan

mengomongkosongkan kehidupan:

Masa depan dan masa lalu kita

 

pertaruhan dalam

catur waktu. Ya, seperti

biasa, memang begini.

 

Lelah dan semangat berputar-putar.

Nyali menggelora saat

momen tertentu.

Seperti biasa, hidup hanya begini.

Hidup hanya berputar-putar,

ya, hanya mengulang dan

 

membosankan. Dan mati? Ah, nanti

kita bicarakan

setelah jam malam.

 

2017

 

Kau Tahu

Apakah kau tahu betapa sialan ketika malam hari rokok dan duit habis, dan penjual rokok bagai setan dari neraka lantai ke-12?

Apakah kau mengerti betapa omong kosong petugas keamanan yang menawarkan keamanan kepada gelandangan?

Atau apakah kau tahu betapa kejahatan hanya diperanakkan tangan-tangan serakah?

Kau sebenarnya tahu, kan?

Apakah kau tahu harga narkoba di pasar atau kampung-kampung dan seseorang memutar-mutar peran sebagai penjahat, kurir, bos dan penegak hukum?

Apakah kau tahu preman adat dan hukum sering melahirkan kekeliruan, tidak, bahkan keputusasaan keadilan, di kantor-kantor itu?

Apakah kau tahu ketika perempuan malam bercinta dipergoki di warung remang-remang selalu dijadikan bahan onani petugas keamanan?

Apakah kau tahu pendidikan hanya bualan masa depan ketika joki skripsi dan beli bangku sekolah dilangsungkan dengan  tempo yang singkat-singkatnya?

Kau pasti tahu manipulasi anggaran pembangunan yang tak masuk akal?

Apakah kau tahu biaya pacaran, biaya nikah, biaya gengsi, biaya korupsi, biaya aborsi sudah dapat ditentukan lebih murah dari standar konvensional?

Apakah kau tahu suara setan di belakang suatu kebijakan?

Apakah kau tahu investor berengsek yang telunjuknya bagai neraka sering ngopi bareng bersama pemerintah-bala tentaranya?

Apakah kau tahu segala yang terlihat hanya kepura-puraan?

Kau sebenarnya tahu semua itu, kan?

 

2017

 

Ahmad Rizki. Menggelandang di Ciputat. Info lanjutan dapat dilokit via Instagram @ah_rzkiii


Posting Komentar

1 Komentar