Esai Umi Nurhayati: Mengupas “Balung Kuning” Perspektif Masyarakat Jawa

Mayoritas orang pasti akan bertanya, apa itu “balung kuning”? Namun, sebagian dari kita pasti pernah melihat orang  atau bahkan kita sendiri yang sering diganggu oleh makhluk tak kasat mata. Sering melihat penampakan tanpa kita inginkan, sering mengalami ketindihan[1]saat sedang tidur. Akibatnya, kita merasa tertekan oleh gangguan makhluk tersebut, bahkan mungkin akan sering kesurupan.

Kejadian-kejadian di atas tadi tentulah sudah familiar bagi mereka yang “balung kuning”. Balung kuning secara bahasa berarti tulang yang berwarna kuning, Adapun tulang yang dimaksud adalah tulang rusuk. Balung kuning adalah padanan kata  yang digunakan untuk menyebut seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki kemampuan melihat makhluk tak kasat mata sejak lahir.

Suka atau tidak keadaan tersebut (kesurupan, seakan melilhat masa depan) akan dibawanya hingga dewasa. Namun, masa depan adalah misteri, meskipun orang yang berkarakter balung kuning merupakan karakter sejak lahir yang tidak bisa diubah, namun bisa dikelola. Ketika bakat tersebut dikelola dengan baik, maka orang yang memiliki balung kuning akan membalikkan keadaan, dalam artian bisa membawa dirinya menuju energi yang positif ( tidak mudah kesurupan dan tidak mudah emosi).

Namun perlu kita garisbawahi, bahwasanya tidak semua orang yang berbalung kuning bisa membawa diri secara kontinyu seperti yang telah saya sampaikan di atas. Kemampuan membawa diri dapat dilakukan oleh orang yang berbalung kuning melalui tirakat-tirakat tertentu yang tak jarang melelahkan ragawi.

Dalam tradisi jawa, balung kuning tidaklah asing bagi masyarakat. Kejadian-kejadian yang dialami oleh seseorang yang berbalung kuning dikatakan wajar, karena orang yang berbakat balung kuning itu biasanya ada yang mengasuh atau dalam bahasa jawa “ana sing momong”[2]Selain kejadian-kejadian yang telah penulis sebutkan di atas, ada ciri tertentu yang terdapat pada seseorang yang memiliki balung kuning, diantaranya adalah; memiliki kepribadian yang introvert (tertutup), jarang bersosialisasi dengan orang kecuali saat mendesak dan penting saja, mudah mendengar bisikan-bisikan ghaib yang tak jarang menyuruh kita melakukan hal-hal di luar nalar kita.

Yang perlu kita perhatikan pada seseorang yang memiliki bakat balung kuning adalah saat mereka bepergian di tempat yang belum pernah disinggahi, mereka akan merasa terancam keselamatannya. Hal tersebut karena di tempat yang baru mereka tidak mengetahui siapa-siapa saja yang menghuni tempat tersebut. Akan lebih baik jika memiliki anak ataupun saudara yang berbakat balung kuning, temanilah saat mereka bepergian di tempat yang belum pernah mereka singgahi, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam perjalanannya, tidak jarang seseorang yang berbakat balung kuning akan berkembang, dari yang biasa diganggu makhluk tak kasat mata, kesurupan hingga tindien. Lambat laut bisa menjadi memiliki kemampuan indera keenam. Namun, dalam kenyataannya kebanyakan orang balung kuning akan memilih untuk menutup jati diri mereka dalam artian tidak membicarakan secara vulgar seputar penglihatannya terhadap makhluk yang tak kasat mata. Hal ini karena mereka khawatir terhadap kemampuannya tersebut yang akan disalahgunakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka orang-orang yang memiliki bakat balung kuning disarankan untuk lebih dekat dengan Allah SWT, mengingat banyak sekali gangguan baik itu yang timbul dari dalam diri maupun dari luar. Bila orang tua memiliki anak yang semacam ini, akan lebih baik  jika diarahkan untuk dididik di pesantren saja. Dibekali dengan pendidikan agama, sebagai bekal untuk menerima sekaligus mengolah sifat bawaan lahirnya itu tadi.



       [1]Keadaan seperti tertekan atau ditindih saat sedang tidur, ingin mencoba bangun namun sangat sulit, bahkan melihat sosok-sosok ghaib.

        [2]  Siman Widyatama, “Suara Ilahi Dalam Budaya Dan Agama Jawa” Penuntun III (Oktober, 1996), hlm. 105.


Umi Nurhayati, lahir pada tanggal 12 Oktober di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini selain sebagai penulis, dalam keseharian ia disibukkan dengan kegiatan mengajar di SMA Dharma Amiluhur Bantul Yogyakarta. Jejak bisa ditemukan di akun instagram @hayatikemuning9032 dan akun facebook @Noorhayati Umi.


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Terima kasih, saya jadi tau tentang balung kuning.

    Apakah balung kuning itu keturunan? maksudnya, sengaja dititipin makhluk gaib sama mbah buyut atau siapanya..?

    BalasHapus
  2. Sangat menarik dari penjabaran nya,

    BalasHapus