Ikuta Zen: Nuh dan Puisi Lainnya


Nuh

Ia menjemputku
lonceng  bahtera sebagai pengenal
yang terdengar di jendela kamar

Saat itu aku masih berada di pesta
apa hal tak disangka
ia ingin berjumpa aku
ia datang namun tak diundang
aku kenali ia
rambutnya masih basah
belum bisa diikat gelang karet
karena habis keramas

Ia menyampaikan
dan membisikkan
juga membawaku agak jauh
supaya tak ada yang melihat
apalagi yang menguping

Padahal saat itu aku tengah menari
sampai lupa diri
tapi ia ingin berjumpa aku

Ujarnya sambil bergetar
ini dunia hanya ujung waktu
ini dunia akan tenggelam dan musnah
ikutlah bersamaku
selagi cerobong asap kapal masih mengepul
dan menembus awan gelap
kita akan menuju pulau yang berkilau
bukan lagi berlabuh di gurun pasir

Jakarta-Banjarmasin, Desember 2015 – Januari 2019

 

Momentum Terakhir Subagio

Adakah lebih akrab,
dibandingkan kematian?
adakah seseorang yang terus berdiri
di daerah perbatasan?
itukah Adam yang turun dari Firdaus
atau Nuh yang membujuk Kana’an
segera naik ke kapalnya

Ia selalu memutar lantunan
orang bilang ia petik di sebuah rayuan
disebut simphoni
terbelah menjadi dua bagian

Ia selalu menulis sajak
di dingin hari
di kota lama bernama Leiden
setiap malam mereguk bulan
di puncak Situnggang
adalah ilham bagi sebuah sajak
yang ia buat

Dari ujung tanduk Afrika Selatan
sampai ke perut bumi yang ia belah
di tengah barat dan tetiba
di kota Sodom dan Gomorah
sudah ia lewati terbang
ke seluruh benua
ia menjelma burung yang hinggap
di sebuah stasiun

Baginya abad dua puluh pergulatan yang menipu
zaman penuh kedustaan
baginya pula keharuan sudah ia tak rasakan lagi
semenjak Bung Karno tak berteriak merdeka
17 kali lagi di bumi pertiwi

Ia rindu kampung
ia rindu surga
tempat asalnya yang lebih mendalam
daripada cinta dan percaya

 

Banjarmasin, November 2021

 

Senja Bersama Benny

Setiap malam pukul satu
adalah waktu tepat untuk menyalakan
keran air di wadah dengan bunyi merintih
melupakan bias hal begitu perih
semenjak ia bercerita tentang kelam
di ujung masa yang masih terbuka lebar

Bagi dirinya rasa mengalah
tiada arti takluk pasrah barangkali kalah
ia ucap buat anakku tercinta
biar ia tumbuh besar dan dewasa

Semenjak senja itu menutup perlahan kalbu
adakah lebih tabah dibanding kisah-kisah
tertutup tumpukan butiran debu
melalui kerangka retak yang aku ucap
adalah waktu tak bisa diputar terus melulu

Setiap pukul satu dan senja
aku teringat cerita, barangkali bahagia
kauucap saat kita duduk bersama
di bangku kayu saat senja
menyisir sisa-sisa rindu
menatap atas berlayarnya mega
berdesir tercipta angin terdahulu
menyamar seperti kenangan

Banjarmasin, 2 Februari 2022

 

Hingga Fajar Terbit

Kepingan cahaya runyam yang menetas
di pinggiran reranting pohon
aku mencoba melihat ke atas
tak ada lagi cahaya berkembang di langit biru
tak ada lagi sinar harapan menggelembung di awan putih
aku merasa putus asa
hingga fajar terbit kembali
kehilangan rasa melunak asa

Mencoba terbang ke lembah
ketika cahaya kembali menampakkan
di timur bergetah
di sana meski kesepian merebak sukma
aku bergulir, menggulingkan badan
hingga ke ujung tanduk lereng
tak usah lagi berharap tentang usia panjang
tak usah lagi bertapa sepanjang masa
kita menunggu setiap remuknya jangka
dan pecahnya suara sangkala

Tak ada lagi gemerlap kemerahan di langit
tak ada lagi harapan menyegarkan di pagi
tak ada lagi suasana kebisingan di siang
tak ada lagi bintang bersinar di malam

Seperti sisa potongan dahan kayu
duri-durinya merekah pada dinding masa lalu
aku mencoba memetik daun tumbuh di ujung dahan
tapi jantung lunglai diterpa angin perpisahan
semacam itukah pengertian mereguk nyawa
kehilangan sudah tak sadar, aku sudah tak peduli lagi
membuang waktu banyak adalah terus bermimpi
sementara kita lupa mematikan keran air
di kamar mandi
berharap begitu banyak sesuatu kisah menangis
diguyur hujan duri
hingga fajar terbit kembali
kita semua akan pergi
tak lupa terima kasih kepada pagi

Banjarmasin, 05 Oktober 2021

 

Jane Doe

Ditemukan seorang jenazah
tanpa tanda pengenal
tak ada tahilalat
tak ada tanda lahir
hanya luka lebam

di sekujur tubuhnya
kedua paru-parunya terbakar

sepasang lengannya patah
gurasan dari benda tajam

 

Para perawat hendak otopsi mayat tersebut
tepatnya suasana itu,
pucat awan hitam di sekeliling tempat,
dimintai keterangan penduduk
tak mungkin
sebab ia sudah mati,
ia sudah tak bernyawa
ia sudah tak bernafas
ia sudah tak bergerak
ia sudah tak bernafsu
ia mati sebatang kara
ia lupa menulis wasiat
tak sempat lagi menitipkan pesan
ia pasrah dan sudah mati

Darah kering berwarna merah atau biru
jika warna darahnya merah
; adalah orang biasa
jika warna darahnya biru
; adalah orang berada
tapi yang dinampak
warna darahnya hitam dan putih
tak ada yang tahu

Di ujung bibirnya ada bekas sisa kulit kerang tiram
sebabnya ia seorang manusia tak tahu pintu kelam
ia hanya seorang diri
dan mati sendiri

Tak disangka, ia bangun kembali
Ia bilang  baru lahir di bumi dosa,
bertanya padaku
aku siapa ?
dan di mana ?
oh ini sorga
atau dunia

Ia diam perlahan
dan menghadap rawa berperah
di depannya
muka sisa umur
tapi tak sadarkan diri
ia bilang lupa gosok gigi
cuci kaki

Lalu diriku siapa ?

- Jane Doe

 

Banjarmasin, Januari-Mei 2021

Ikuta Zen, tinggal di Banjarmasin. Menulis puisi sejak 2015. Puisi-puisinya termuat berbagai antalogi lomba cipta puisi dan di media online. Aktif di Facebook : Ikuta Zen dan di Instagram : @iktzen24


Posting Komentar

0 Komentar