Esai Muhammad Muzadi Rizki: Moderatlah dalam Mencintai


Cinta itu unik, hanya satu kata tetapi mempunyai jutaan makna –tergantung subjektivitas–. Cinta juga bak dua sisi: yang pertama, sisi madu, dan yang kedua racun. Ketika sisi madu yang muncul, ia akan jadi energi positif dalam kehidupan yang menghasilkan ekspresi bungah, senang, dan penuh harapan indah. Tetapi sebaliknya ketika sisi racun yang menggerogoti, ia akan menciptakan suatu kondisi most down, lesu, malas-malasan dan kontraproduktif bagi seseorang.

Kali ini akan sedikit membahas fenomena cinta zaman now, dimana ketika cinta ditolak gaet-nya pakai mistik, ketika patah hati galaunya minta ampun; mulai dari post story kutipan-kutipan galau, play lagu-lagunya tulus, menghapus foto profil, tidak mau makan, menyendiri dan murung di kamar, bahkan yang paling “tragis” pernah ada yang coba bunuh diri. Begitulah dinamika percintaan zaman now.

Untuk menjawab persoalan tadi maka moderat-lah dalam mencintai. Pasti ada yang bertanya maksudnya gimana sih? begini lhoo, menukil Yai Edi AH Iyubenu dalam bukunya Berislam dengan Akal Sehat, output moderasi yaitu sikap, praktik di tengah-tengah, keseimbangan yang mencakup pelbagai aspeknya dalam kehidupan. Dalam gagasan tadi ada kata “pelbagai aspek”, maka dari itu dalam hal percintaan juga harus moderat. Moderat yang dimaksud yaitu termanifestasikan dengan sikap yang berada ditengah-tengah, seimbang, wajar, biasa-biasa saja, tidak berlebihan.

Ketika ada seseorang menjalani love affair yang awalnya biak-baik saja, lama-kelamaan menjadi loveless relationship kemudian berubah toxic relationship dan berkahir dengan “maaf kayanya kita lebih cocok berteman aja deh, selamat menikmati kehidupanmu yaa!!!” (baca: udahan). Jika reaksi yang ditampilkan oleh orang tersebut tetap rileks, biasa-biasa saja –tetap merasakan sakit hati tapi bukan kategori akut–, dan orang tersebut sudah paham bahwa sifat manusia itu dinamis kapan saja bisa berubah. Itulah yang disebut moderat dalam mencintai.

Solusi itu ternyata selaras dengan dhawuh Kanjeng Nabi dalam sebuah hadits :

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Artinya:

“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR: Al-Tirmidzi)

Kalau sedang dimabuk asmara dengan orang, cintailah secara wajar, sedang-sedang saja, jangan terlalu berekspektasi berlebih mengharap sesuatu yang besar darinya. Karena عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا (karena bisa jadi/berpotensi orang yang dicintai saat ini, suatu hari akan menjadi musuhmu). Sebaliknya,أَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا (sangat mungkin terjadi orang yang saat ini kamu benci, justru suatu saat malah jadi jodohmu). Contoh real kasus seperti ini banyak terjadi, makanya jangan heran sewaktu sekolah, kuliah, dikerjaan orangnya saling benci tetapi seiring dengan berjalannya waktu Allah SWT Yang Maha Membolak-balikkan Hati menakdirkan dua hati yang idealis akhirnya dipersatukan, dipersunting dipelaminan.

Sudah paham sekarang kan?? Maka aturlah posisi kalian secara tepat, moderat dalam hal mencintai seseorang. Lebih baiknya, dalam memilih pasangan berikhtiarlah sesuai panduan Rasul, Rasul bersabda “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung”. Ada juga dalam hadits lain, Rasul bersabda “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi”.

Dari dua redaksi hadits tersebut sudah sangat sharih bahwa skala prioritas dalam memilih pasangan (wanita maupun laki-laki) itu dari segi akhlak dan agamanya. Ini merupakan sikap yang paling moderat diantara opsi good looking, good offspring ataupun good rekening. Akhlak dan Agama menjadi pertimbangan paling fundamental dan seimbang dikarenakan sikap ini akan abadi menjadi petunjuk kebahagiaan dalam menjalani kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Jangan mengutamakan pasangan dari segi good looking karena suatu saat pasanganmu akan menua. Begitu juga jangan mengutamakan good rekening, karena harta kapan saja bisa sekejap habis tanpa sisa.

Itulah tuntunan hidup rileks moderat dalam mencintai. Mulailah yang santai, tengah-tengah, wajar, sedang-sedang saja. Jangan sampai menaruh harapan yang lebih, karena kecewa seringkali datang ketika semua itu tidak terealisasi dan berharap yang berlebih-lebihan terkadang sakitnya lebih terasa ketika harus kehilangan. Jangan pula mudah menjadi pembeci, karena kedepannya hanya Allah SWT yang tahu. Internalisasikanlah adagium masyhur bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. (*)



Muhammad Muzadi Rizki; Dia tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan, Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Dia memiliki hobi travelling, dan menulis apa yang bisa ditulis. Instagram : muzadrzk_.


Posting Komentar

0 Komentar