Cerpen M. Iqbal Mubarok: Prasangka

Dua jam sudah gadis itu duduk di depan pelataran toko depan kedai yang sebentar lagi akan ditutup oleh empunya. Dari ujung kaki hingga kepala, gadis itu sebenarnya cukup cantik, dia menggunakan setelan gamis yang bisa mengusir hawa dingin Malang malam itu, lengkap dengan kerudung krem yang dia gunakan menjuntai agak ke bawah. Matanya yang nampak lelah masih berusaha awas dengan keadaan sekitar. Terutama karena wilayah jalan Sigura-sigura saat itu telah cukup lengang. Bahkan penjual nasi goreng depan ITN (Institut Teknologi Nasional) akan beranjak pulang dengan membawa untung yang cukup lumayan malam ini.

Gerai-gerai toko juga sudah mulai banyak yang ditutup. Artinya jarum jam telah sampai pada satuan angka-angka di waktu dini hari. Gadis itu kembali duduk dan mendekap dirinya dengan sangat. Seperti seorang ibu yang akan takut kehilangan buaian yang masih berada di dalam rahimnya. Meski dia nampak sangat muda, nampaknya dia sekarang memiliki kekhawatiran yang sama seperti para Ibu-ibu tentang kelahiran anak pertamanya.

Gadis itu bernama Sara, dia adalah seorang mahasiswa perantauan asal Bekasi yang memilih Malang sebagai kota untuk menempuh pendidikan. Berbekal doa orang tua dan semangatnya yang sangat luar biasa, Sara menjalani harinya di Malang dengan cukup betah. Dia juga memiliki banyak kawan-kawan yang selalu menemaninya dan memberikan dukungan dalam bentuk apapun. Namun nampaknya kali ini dia enggan meminta bantuan pada teman-teman dekatnya.

Masalah yang sedang dihadapi Sara kali ini memang cukup pribadi. Jadi daripada salah jalan dengan meminta bantuan teman, dia lebih memilih untuk mencoba menyelesaikannya sendiri. Masalah ini ada hubungannya dengan kekasihnya yang bernama Dio. Dua sejoli ini sebenarnya tergolong pasangan yang sangat romantis. Keduanya sama-sama mahasiswa perantauan dari luar Kota Malang. mereka bertemu pertama kali di satu kelas yang sama untuk sebuah mata kuliah yang diulang oleh Sara, dan ternyata saat itulah dia bertemu dengan Dio.

Dio satu tahun di bawah Sara, namun sebenarnya usia mereka sepantaran. Tak perlu waktu lama bagi keduanya menjadi sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Bahkan saking mabuknya, Sara melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Dan membuatnya hingga berada di titik terendah sekarang.

Sara masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Dia kembali menyalakan smartphone untuk melihat jam. Nampaknya malam ini dia sedang menunggu kedatangan seseorang.

“Sudah satu jam berlalu dari waktu janjian, dia kemana sih?”, Sara mulai gusar.

Nampaknya orang yang dia tunggu datang terlambat dari yang dijanjikan. Malam semakin larut, dan rembulan nampak semakin bersinar setelah sebelumnya terhalang awan pekat yang membawa hujan sejak tadi sore. Sara yang awalnya berusaha tenang akhirnya menjatuhkan air mata. Dia tidak mengira bahwa masalah ini sedemikian besar. Dia langsung teringat dengan kedua orang tuanya yang saat ini sedang terlelap karena lelah bekerja seharian. Demi uang bulanan yang dia dapatkan dengan mudah, namun dimanfaatkan dengan cara yang salah.

“Pak….Buk…”. batin Sara nampak sangat teriris jika dia kembali teringat perihal perbuatan yang telah dia lakukan dengan Dio.

Ting!

Bunyi notifikasi ponsel Sara terdengar cukup nyaring di kesunyian malam itu. Dia langsung bergegas merogoh kembali kantong bajunya dan melihat notifikasi Whatshapp dari seseorang, dan nampaknya Sara telah menelan sebuah kekecewaan yang sangat dalam malam itu. Raut wajahnya yang lelah, kini bertambah gusar. Bahkan benang yang kusut, kalah buruk jika dibandingkan dengan mimik muka Sara malam itu.

Sar, aku minta maaf. Bukannya aku ingin mengkhianatimu, namun aku mendadak ada keperluan organisasi di luar kota dan malam ini berangkat mendadak. Maaf ya sayang, aku janji setelah ini selesai, aku akan menemuimu dan menyelesaikan masalah kita.

***

Seusai menutup kegiatan diskusi malam itu, Asep yang biasanya tenang membaca buku di beranda tokonya menjadi sedikit terusik. Perhatiannya teralihkan pada seorang gadis yang berada tak begitu jauh di seberang jalan sana. Gadis itu bukanlah kenalan atau teman dekatnya, namun gelagat si gadis membuat Asep sedikit bersimpati. Sudah dua jam berlalu sejak dia terakhir menemukan seorang gadis di seberang jalan sana. Dan nampaknya si gadis tidak menyadari bahwa Asep memperhatikannya sejak tadi.

Asep sempat berpikir, bahwa bisa jadi apa yang dia lihat adalah jelmaan demit yang biasanya selalu mengganggu pengendara lewat dengan penampakan-penampakan aneh. Kabar itu Asep dapat dari tuturan beberapa saksi. Konon kabarnya jalan depan toko Asep sempat mengalami kejadian yang cukup menghebohkan setahun lalu. Seorang perempuan yang sedang hamil tidak sengaja tertabrak pengendara motor di tengah hari.

Asep yang baru saja pindah ke tempat itu satu bulan setelahnya memang tidak melihat dan merasakan kejadian itu. Namun kabar yang beredar dari para warga sekitar, nampak membuat Asep meyakini insiden tersebut mendatangkan bencana lain. setelahnya jalanan depan rumah Asep menjadi sedikit angker dan cukup dijauhi ketika malam. Terutama di malam-malam sakral seperti malam Jumat dan malam Selasa.

Sebenarnya Asep adalah orang yang sedikit penakut. Namun Insomnianya tidak bisa dilawan hanya dengan rasa takut. Terutama jika dia dibenturkan dengan kegiatan diskusi rutin yang kerap dilakukan ketika malam jumat di toko. Maka Asep akan terjaga hingga subuh seusai diskusi untuk membaca buku. Diskusi itu tentu berkaitan dengan apa yang telah dibaca Asep beberapa hari sebelumnya.

Kegiatan ini merupakan salah satu aktivitas yang sangat digemari Asep. Selain pencinta Kopi (itulah sebabnya dia membuka kedai kopi sekaligus toko sembako) Asep juga terkenal sebagai pembaca yang tekun. Sehingga dia memilih mendirikan sebuah komunitas literasi demi memperjuangkan hak-hak literasi Indonesia. Anggota komunitas itulah yang kerap nimbrung dalam diskusi Asep setiap malam. Termasuk malam ini, ketika Asep dibuat tidak tidur karena hadirnya sesosok seperti manusia di seberang jalan sana.

“Mana mungkin ada demit di zaman sekarang?”, batin Asep berusaha menguatkan bahwa apa yang dia lihat malam ini memang seorang manusia (lebih tepatnya seorang gadis).

Asep berusaha memperhatikan lebih detail sosok yang dia sangka demit tersebut. Dia berusaha mencari jejak manusia dari sosok itu dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lihat malam ini adalah seorang manusia yang bingung sendirian, bukan setan iseng yang sedang mencari mangsa seperti penuturan warga lain.

“Ah, kakinya napak tanah”, ucap Asep dalam hati sambil bernafas lega.

Selanjutnya Asep kembali meraih buku yang sempat dia baca dan tenggelam dalam ratusan bahkan ribuan kata yang coba dia telaah satu-persatu. Namun entah kenapa ketika jarum jam berada di angka tiga, Asep kembali memperhatikan gadis itu (kali ini Asep yakin kalau itu gadis dari bangsa manusia) dan menaruh bukunya kembali.

Kenapa ada seorang gadis malam-malam begini?

Sebenarnya Asep sangat ingin menghampiri gadis itu dan menawarinya untuk singgah sambil menyuguhkan minuman hangat. Selain karena kasihan, Asep paham bahwa kali ini Malang sedang berada di kondisi yang tidak menentu. Sehingga bisa jadi cuaca berubah dengan sangat cepat dan sangat sulit ditebak. Malam ini udara malam juga lebih dingin daripada sebelumnya, sehingga Asep nampak menaruh perhatian lebih pada gadis itu. Dia takut gadis asing tersebut akan terserang flu ringan jika berlama-lama di emperan toko di waktu dini hari.

Namun bagaimana jika dia mengira aku adalah orang jahat? Atau bagaimana jika dia mengira aku adalah laki-laki yang ingin memanfaatkan kesendiriannya?

***

Sara akhirnya pasrah. Dia enggan pulang dengan keadaan kumal dan mata yang belum sempat terpejam sama sekali. dia berharap akan mendapat kabar terbaru dari Dio yang katanya ada kegiatan mendadak dan memilih untuk tidak menepati janjinya malam itu. Dini hari hampir usai, ketika para pengangkut sampah datang dan menghampirinya yang masih duduk di emperan toko seperti sebelumnya.

“Ngapain mbak di sini?”, tanya si pengangkut sampah dengan membawa aroma menyengat tidak nyaman.

“Gak apa-apa, pak, hanya sedang menunggu kawan”, jawab Sara sekenanya. Dia tidak berharap diperhatikan dengan siapapun saat ini, termasuk pengangkut sampah tersebut.

“Oh, ya sudah”, ucap si pengangkut sampah sambil beranjak pergi.

Nampaknya si pengangkut sampah paham bahwa gadis yang ada di hadapannya sedang tidak ingin diganggu. Atau bahkan mungkin terganggu dengan kehadirannya yang tiba-tiba bertanya demikian. Itulah sebabnya dia memilih pergi tanpa perlu memperpanjang basa-basi lagi. Dan mengurungkan niatnya memberikan roti gratis dari Asep yang menyuruhnya agar diberikan pada Sara.

“Nampaknya gadis itu tidak akan suka dengan roti pemberian si Asep”, batin si pengangkut sampah sambil membuka bungkus roti tersebut.

***

Langit perlahan membiru. nampaknya pergantian pagi akan terjadi beberapa menit lagi. Sara kembali melihat smartphone miliknya untuk memastikan ada pesan dari Dio. Namun, nihil. Dia langsung membuka chat terakhir Dio. Entah kenapa perasaan janggal langsung menyerang pikiran Sara.

Dia melirik foto profil Whatshapp Dio. Biasanya, Dio memajang foto profil di Whatsappnya karena bagi Dio tanpa foto profil Whatshapp sama saja dengan orang yang tidak menyimpan nomor atau memblokir seseorang. Itu sebabnya Dio selalu memajang foto profil sebagai tanda dia berhubungan baik dengan orang lain. Tapi, hari itu foto profil Dio mendadak kosong. Sara akhirnya menimbang-nimbang dengan sangat cemas.

Apa jangan-jangan?


M. Iqbal Mubarok, seorang pengangguran yang berpura-pura sibuk setiap hari.


Posting Komentar

0 Komentar