Naufalul Ihya’ Ulumuddin: 6 Rekomendasi Buku Pendidikan yang Wajib Dibaca Calon Guru

Katanya, peradaban suatu bangsa berada di tangan para guru. Saya pribadi yakin dan percaya itu. Tapi, persoalannya adalah guru yang seperti apa?

Saya adalah seorang mahasiswa yang beberapa tahun terakhir mulai tertarik dan sedikit banyak peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Terutama guru-guru pengajarnya. Karena, saya rasa, guru adalah kunci, mau tidak mau memang harus menjadi kunci dari sebuah generasi bangsa, yaitu para murid-muridnya.

Tapi, yang saya resahkan adalah ketika melihat geliat dan gairah para calon gurunya. Calon guru di sini adalah teman-teman saya yang menempuh pendidikan tinggi di jurusan kependidikan. Sebuah jurusan yang nantinya akan menyandangkan gelar S.Pd pada mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya.

Apa yang salah dengan geliat dan gairah mereka? Saya rasa tidak salah dan tidak benar juga, hanya saja cukup mengherankan dan meresahkan. Sebagian besar teman yang menempuh pendidikan tinggi keguruan justru merasa salah jurusan dan tidak ingin menjadi seorang guru. Alhasil, mereka justru meremehkan jurusannya dan mengabaikan betapa besarnya peran seorang guru dalam peradaban pendidikan anak muda bangsa. Nah, cara meremehkan yang paling menyakiti hati saya sebagai mahasiswa yang mulai meresahkan dunia pendidikan adalah gairah membaca para calon guru yang secara kasat mata (tidak harus dijelaskan secara statistic) begitu rendah. Bagaimana tidak, saya sampai bosan mendengar teman saya, yang merupakan calon guru, selalu mengeluh karena diperintahkan dosennya untuk membaca buku ini dan itu. Mereka begitu malas membaca sepertinya. Akhirnya, mereka jarang dan bahkan nyaris tidak pernah membaca buku pendidikan satupun. Sehingga, tugas-tugas kuliahnya hanyalah hasil dari copas (copy paste)  website kesayangannya masing-masing. Ini memilukan.

Ini juga akhirnya yang saya rasa menjadikan beberapa teman calon guru saya tidak kenal dengan buku-buku dan istilah dasar pendidikan yang anti-maenstream, tapi penting. Maka dari itu, berikut saya rekomendasikan 6 buku bacaan utama yang wajib dibaca calon guru, tapi jarang diketahui oleh para calon guru itu sendiri. Barangkali, 6 rekomendasi buku ini juga bisa menjadi pintu masuk para calon guru untuk mulai suka dan membudayakan membaca buku. 

#1 Madzab Pendidikan Kritis Karya Dr. M. Agus Nuryatno

Buku ini jarang diketahui anak jurusan pendidikan, setidaknya di kalangan teman-teman jurusan pendidikan sekitar saya. Tapi, wajar saja, karena buku ini membahas aliran berbeda dari pendidikan pada umumnya yang berkembang di Indonesia. Bisa dibilang, buku ini adalah aliran “sesatnya” pendidikan. Hanya saja sesatnya di jalan kebenaran. Percayalah…

Di buku ini mengulas persoalan pendidikan formal yang sudah mapan dengan sudut pandang berbeda, yaitu sudut pandang kritis untuk perubahan pendidikan ke arah yang lebih manusiawi. Jadi, para calon guru harus baca agar nanti saat sudah menjadi guru punya semangat dan pandangan perubahan yang kritis untuk membela kepentingan orang-orang lemah di sekolahnya masing-masing.

#2 Pendidikan Kaum Tertindas Karya Paulo Freire

Agar tidak berpetualang di lingkungan pendidikan Indonesia saja, maka buku karya Freire ini mencoba memberitahu pada kita tentang kondisi pendidikan di daerahnya, di Brazil sana. Jauh memang, tapi setelah saya baca dan renungi kok sepertinya banyak miripnya dengan yang ada di Indonesia. Misalnya pendidikan yang hanya menjadikan guru sebagai pusat pengetahuan siswa(teacher center), jadi siswa dianggap tidak punya pengetahuan. Setelah dipikir-pikir agak jahat ya kalau menganggap orang lain (dalam hal ini siswa/murid) itu tidak tahu apa-apa, ya meskipun itu siswa, tapi kan tetap saja agak jahat. Nah, buku ini mengulas itu. Orang-orang yang diposisikan tidak tahu apa-apa itu rentan untuk ditindas. Di Indonesia juga banyak. Makanya, menurut saya para calon guru wajib untuk baca buku ini.

#3 Pedagogi Kaum Terkunci Karya Dr. Ardhie Raditya

Buku selanjutnya adalah buku yang terbit akhir tahun 2021, yaitu pedagogi kaum terkunci. Buku ini secara jelas mengkritik sekaligus menyempurnakan konsep-konsep pendidikan yang dijelaskan Paulo Freire pada Pendidikan Kaum Tertindas. Buku ini menceritakan tajuk kisah keterperangkapan guru dan siswa di brankas pendidikan yang memabukkan dan mengunci kebebasan berpikir. Dan yangmengejutkan, faktaini terjadi pada pendidikan yang ada di Indonesia. Haduuh, kira-kira para calon guru sudah merasakan, gak ya? Jika belum, sangat perlu untuk membaca buku ini untuk memunculkan kesadaran itu.

#4 Pendidikan yang Menjajah Karya Galih Nugroho Su

Selanjutnya, adalah buku dari seorang praktisi pendidikan Indonesia, yaitu Galih Nugroho Su. Bukunya ini seakan-akan menjabarkan masalah-masalah pendidikan yang suram seperti yang digambarkan Freire di Brazil, tapi bedanya di buku ini benar-benar memuat berbagai kasus yang ada di Indonesia. Intinya pendidikan itu ternyata tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi juga menjajah. Ah sudah tidak cerdas, terjajah lagi. Bingung deh.

Kesan saya membaca buku ini adalah, semakin dalam membacanya, semakin perih di hati. Saya harap bisa berbagi keperihan itu pada para calon guru saat melihat pendidikan kita di negeri ini dan meresahkan bersama agar saling memiliki semangat perubahan untuk pendidikan yang lebih baik dan manusiawi pada kalangan-kalangan terbuang.

#5 Matinya Pendidikan Karya Neil Postman

Selanjutnya, kita berangkat lagi ke luar negeri. Kali ini di Amerika. Buku ini agak sulit bahasanya daripada buku-buku sebelumnya. Hanya saja, apalah arti sebuah kesulitan jika tidak dicoba? Aseek. Intinya, buku ini menggugat bahwa banyak tuhan-tuhan baru yang dipuja oleh masyarakat modern. Salah satunya banyak muncul di arena pendidikan. Lebih serunya, bacalah lengkap di bukunya, kawan!

#6 Orang Miskin Dilarang Sekolah Karya Eko Prasetyo

Terakhir, kita kembali pulang ke konteks pendidikan di Indonesia. Sepertinya, buku yang terakhir ini sudah banyak didengar orang. Selain penulisnya yang terkenal, buku ini juga salah satu dari seri dilarang miskin, seperti serial buku lainnya yang berjudul orang miskin dilarang sakit. Di buku ini (orang miskin dilarang sekolah) dikisahkan tentang kejamnya kapitalisasi pendidikan yang akhirnya memupuskan harapan orang miskin untuk sekolah. Memang, larangan secara tegasnya bahwa orang miskin dilarang sekolah itu tidak ada. Tentu tidak akan pernah ada. Jika ada maka melanggar konstitusi secara nyata, dong. Tapi, larangan terselubungnya banyak berkeliaran di mana-mana, yang barangkali jika kita tidak peka dan tidak membaca buku ini sebagai perantara, maka, ya, tidak akan terasa kekejaman larangannya.

 

Saya rasa cukup itu saja buku-buku yang bisa direkomendasikan untuk dibaca, khususnya bagi para calon guru. Saya yakin dengan membaca keenam buku itu, setidaknya memunculkan sekelibat suara-suara kemanusiaan di benak para calon guru bahwa pendidikan saat ini tidak baik-baik saja. Tidak baik-baik saja bukan karena kalah bersaing dengan pendidikan di luar negeri, tapi justru tidak baik-baik saja karena melupakan keutamaan pendidikan untuk orang-orang melarat di dalam negerinya sendiri.


Naufalul Ihya’ Ulumuddin


Posting Komentar

0 Komentar