Abdullah Mushabbir: Tanganku Bau Darah dan Puisi Lainnya


Tanganku Bau Darah

tapi tak ada memar di lengan

atau darah di ujung jari

sembilan sayap malaikat memang kukuliti

tak ada pun warna merah mengikuti

 

kucoba mengirim pesan pada Jefni

“Tadz, kalau hendak memesan keripik kentang

ke mana aku harus mengirimkan uang?”

diberinya nomor rekening, tak disebutnya sebuah bank

 

orang-orang tua di desaku memberi pesan itu

“Cobalah bantu lelaki yang tersesat,

nanti kau akan kembali mencium wangi pekat.”

aku tak percaya sebelum mencobanya,

kumakan satu per satu keripik itu

 

dan benar saja hilang amis darah dari lenganku

pecahan-pecahan keripik itu memasuki nadiku

bernyanyi di dalamnya dengan suara syahdu

kalau kau hendak berdoa lagi, makanlah denganku

 

karena doaku selalu tentang pengembalian

menusuk jantung pada siapapun yang datang

 

Jumat Ini Lucu Sekali

Hujan di luar, tapi tak ada air di kamar mandi

mungkin seseorang telah bertarung

awannya hingga kemari

“aku sudah meneteskan darah,” katanya

tapi darah setetes tak pernah cukup

leluhurmu meminta tumpah

 

mereka bertarung lagi; kepala berputar

pinggul bergoyang mengejek penyerang

 

“aku tak mau diadu, tak mau!” rengek seorang anak di ujung lingkaran

“tapi aku menuntutmu!” ibunya menyesal telah datang

uang sudah pada pekembar

sebungkus nasi kotak di hadapan gendang

 

“musik itu tak akan berhenti sebelum kau maju,

kalau beruntung kita mungkin akan mendapat sapi.”

 

“tapi ini Jumat,

orang-orang tidak mengorbankan sapi.”

 

orang-orang mungkin tidak

tapi leluhur kita meminta tumpah

 

Gelas Usang

  1.  

di pojok ruangan menjadi

saksi tangisan dan air

mata mengalir pagi hari

padahal aku berniat puasa

tapi tak bisa mengendalikan

nafsu kesedihan

 

bukankah kau baik-baik

saja? Tidak; aku bersedih

atas kematian seseorang asing

atau nyawa tak berhenti

berkabung bersama, bertanya mengapa

aku harus peduli

 

tidak, aku tidak peduli

aku tak bisa membayangkan

ragaku melakukan hal serupa

diam membisu, ragu bersuara

 

Kalau begitu siapa lagi saksi-saksimu itu?

apakah mereka hadir di sini?

 

 

  1.  

“Pendosa sepertimu, tak pantas mencintaiku,”

aku ingin mendengarnya darimu

seolah-olah kau iblis wanita

dalam setting ibukota

sedangkan aku antagonis dunia

dari semak-semak bambu

 

tapi jelas dosamu lebih banyak

membuntingi rahim bumi

melepasnya dalam aborsi

aku mengakui dosa-dosamu

sebagai pembimbing paling murni

 

“tapi kau tak pernah membalas pesanku,

surat tanpa warna berisi maaf dan ganggu waktu.”

aku sudah membacanya

tapi selalu butuh waktu bagi malaikat

untuk benar-benar memperhatikan

 

mataku seribu, sayapku satu

aku memata-mataimu

sekaligus mencintai

tanpa henti


Posting Komentar

0 Komentar