Cerita Bersambung Taufik Juang Dwiadi: Hitam Putihnya Penjara - Bagian I dan II


Tokoh:

0721 : tokoh utama

0192 : seorang perempuan

0378 : tokoh dengan banyak peran

A__e_ : nama asli tokoh utama yang tidak terungkap

____ dan ____ : dua orang perempuan dalam bagian V

0492 : kakak dari seorang adik

??? : penghuni sebelah 0721 yang mencintai 0492, seorang mantan narapidana: manusia bebas yang kabur dari penjara

I

Kuamati sisi-sisi suatu boks bernama kebenaran. Kuhitung dengan skala prioritas bernama kebaikan. Kurasakan dengan banyak sentuhan untuk mencari titik-titik menggunakan kenyataan hidupku. Kudapati bahwasanya aku masih berada dalam penjara meskipun aku tetap dapat bermain-main dengan boks itu. Oleh karena itu, aku berusaha melemparkan permainan itu pada pengawas. Seperti dalam adegan-adegan suatu film, aku merencanakan sesuatu. Sendirian bukanlah halangan untuk menuju kesuksesan. Sebagaimana para manusia mencari pencahariaan hidup pada kota dianggap masa depannya, dia selalu dapat mengatasi berbagai tantangan pada kehidupan impian masa depannya.

Aku merencanakan sendiri bagaimana pengawas dapat merasakan penderitaanku dengan melemparkan boks ini kepada mereka. Mula-mula aku mengamati jadwal sehari-hariku. Makan adalah suatu kepastian hidup. Tidur merupakan sarana rekreasi paling indah untuk orang-orang sepertiku. Teriknya matahari bukanlah teman baik karena keterbatasan hidup adalah ajaran utama dari penjara ini.

Aturan pertama penjara ini adalah untuk jarang berbicara pada orang lain, maksudku kepada tahanan lainnya. Sejujurnya aku sendiri yang menciptakan aturan pertama ini karena aku ingin bertahan hidup pada kerasnya dunia milikku. Pikiranku ini pernah ditentang oleh tahanan 0192 tapi aku nyatakan bahwasanya hidupku adalah hidupku. Tidak perlu banyak ikut campur urusan hal-hal remeh seperti ini. Aturan kedua adalah aturan main dari penjara ini. Satu sama lain harus saling mendukung agar tercipta suatu suasana harmonis. Sayangnya, jika aku bisa menyanyikan lagu harmonis, tidak perlu pagar-pagar tinggi penuh dengan jarum dan duri agar aku dapat menyayangi satu sama lain. Berikan saja padaku kebebasan, seperti kebebasan pengawas hidupku. Aturan ketiga memiliki caranya tersendiri lainnya. Dia tidak dituliskan, tapi dibakukan menjadi benda sangat padat, sehingga sulit untuk ditembus. Tahanan sama sekali dianggap tidak punya suara ketimbang para pengawas. Inilah keadilan, kata banyak orang. Maka aku hanya bisa duduk terdiam dan merenung kenapa keadilanku begitu terbatas.

Lupakan semua penjelasanku. Aku lelah menjelaskan banyak hal.

Sekarang ini adalah saat-saat di mana hari impian kebebasan menyapaku. Aku telah menandai berhari-hari sebelumnya bahwa aku punya saat-saat di mana aku bisa kabur dari penjaraku. Meski seperti itu, hampir dikatakan sama sekali tidak berguna, sedikit bermimpi saja semakin membuat perasaanku gundah gulana.

***

Aku membasuh wajahku dengan air. Kulihat bahwasanya akan ada pengecekan manusia-manusia di muka bumi. Aku mengambil setelan baju tanpa punya fungsi apapun selain menyatakan bahwa aku adalah penghuni penjara. Tak lupa pula rambutku kusisir untuk menyatakan bahwa hidupku sejujurnya lurus-lurus saja. Atau sejujurnya untuk berpesan pada diriku sendiri agar tidak menyimpang dari kebenaran bersama? 

Dengan demikian, aku dibariskan secara rapi dan kekanak-kanakkan. Jumlah pesertanya terhitung lebih dari jumlah jari tanganku dan kakiku. Untuk eksaknya tidak terlalu penting karena aku lebih mengamati gerak-gerik pengawas penjara ini. Kalah jumlah bukan alasan untuk menyerah. Seorang diri di tengah kerasnya hidup hanya membuatku menyadari bahwa hidupku sebatang kara. Tapi sepertinya hidup tidak terlalu peduli pada hal semacam ini.

Kegiatan pagiku adalah berlari. Mengitari suatu kegiatan tak berakhir milikku.

Kegiatan siangku adalah menulis. Menjadikan kepedihanku tidak selalu terkenang.

Kegiatan malamku adalah membaca. Melupakan masalah-masalah milikku.

Seperti itulah aku menghabiskan waktuku. Tanpa belas kasihan aku berusaha menyia-nyiakan waktuku hanya agar aku bisa mempertahankan nafasku. Aku pernah menangis tapi air mataku tidak menghasilkan tanaman keajaiban yang dapat menghancurkan sel tahananku. Setidaknya aku butuh kerahasiaan, sehingga aku dapat bersujud pada Tuhan dalam suatu kerahasiaan mendewasakan, bukan hanya bersifat kanak-kanak yang ingin menguasai segala hal. Membasuh tanganku, membasahi wajahku, menandai mulutku, membersihkan hidung, dan lain-lain sebagainya. Semuanya memang proses dan selalu bisa untuk dianggap tidak terlalu penting. Dalam tahananku, aku bukanlah manusia. Aku hanyalah angka. Tempat segalanya diukur tanpa memperhatikan. Maksudku, proses terlupakan dalam sejarah karena kelalaian dari perhatian tersebut.

Aku sendirian dalam tahananku. Lalu, dipaksakan kenyataan paling kejam seumur hidupku. Lemparan boks yang telah aku rencanakan secara matang justru hanya mengenai penghuni lainnya. 

II

Jika diperhatikan lebih lanjut, penjara itu dapat terdistorsi. Aku pernah mengitari kompleks saat malam hari juga pada siang hari. Hal yang aku lakukan pertama-tama adalah mengamati gerak-gerik matahari saat kemunculannya maupun tenggelamnya. Aku amati pergerakan bayangan dari kompleksnya kegilaan manusia. Saat matahari terbit, manusia mulai menyiapkan kegiatan hariannya. Diawali dari bangun tidur, bayangan terbentuk dari kata masa lalu. Bayangan itu dianggap menyerupai dirinya, pun dikatakan tidak sama juga alangkah baiknya. Untuk orang-orang di penjara, mereka menyepakati bahwa ada suatu kesepakatan untuk tidak membahas kejahatan masa lalunya secara detail, karena seseorang tidak akan pernah mengerti bagaimana reaksi pendengar.

Oleh karena itu, bayangan terletak pada masa lalu. Meskipun seorang terdakwa dapat mengamati kebebasan terbang layaknya seekor burung, sayap orang tersebut telah patah sejak dia memasuki salah satu lorong gelap kehidupan. Dikatakan hampir tanpa harapan karena penjara juga dapat disebutkan sebagai school of crimeAkhirnya penjara hidupku pun terdistorsi menjadi suatu bentuk persekolahan. Dijadwalkan berbagai pelajaran penting untuk lulus ujian agar nantinya dapat bebas dari penjara. Terkadang aku berpikir dua kali tentang arti kebebasan. Apa gunanya saat kita telah dilebarkan pintu kebebasan tapi kita tidak dihormati sebagai manusia?

Dalam sekolah itu, aku berkenalan dengan seseorang, tetapi aku tidak pernah menamai satu orang pun di sana. Dia bernomorkan 0378. Aku menjulukinya sebagai ahli dalam menjadikan kuas bertinta apapun menjadi warna-warni. Dia dapat mengubah warna air menjadi pelangi seutuhnya meskipun air itu sepenuhnya hitam pekat.

Kalau air menjijikkan biasanya dapat terlihat pula berwarna hijau. Kalau aku suka mewarnai kehidupanku, biasanya aku juga mewarnai selokan di sekitar rumahku menggunakan warna itu. Orang masuk ke penjara alasan utamanya seringkali karena lingkungannya tidak mendukung dia untuk menjadi baik. Air selokan di sekitar rumahnya seringkali berwarna hijau, tapi entahlah, aku tidak terlalu peduli terhadap warna.

***

Aku sering melakukan kegiatan bersama 0378. Walaupun aku hidup sendirian pada kamar kecilku, manusia juga butuh berkomunikasi terhadap makhluk sejenisnya. Terkadang, aku bertanya-tanya, apakah manusia sejenis makhluk paling pintar? Meski tidak aku sebutkan sambil menahan geli karena terpikirkan kalau hidup manusia terkadang tidak lebih baik daripada hewan. Penjelasan semacam itu bisa untuk di lain waktu. Kali ini di hadapanku ada 0378. Detail tubuhnya tidak perlu dijelaskan secara utuh, karena dia hanyalah angka tanpa nama. Umurnya telah mengijak 27 tahun. Ekspresi wajahnya terlihat seperti singa saat menguap. Terlihat sama sekali tidak garang atau justru sengaja menampakkan kengeriannya karena taring-taring berdarah dalam mulutnya?

Catatan kejahatannya tidak perlu dituliskan karena dia tidak punya nama. Dia hanyalah angka. Aku hanya menceritakan kalau dalam mulutnya, dia punya banyak gigi pengoyak untuk memudahkan daging-daging masuk ke dalam mulutnya. Katakanlah, daging sebagai sumber protein. Sekalipun darah pada daging masih membekas.

Dudukku bersamanya tidaklah lebih buruk jika dibandingkan saat aku melakukan eksperimen terhadap kebijakan semesta alam. Sering kali aku bertengkar dengan dirinya karena urusan sepele. Sepelenya urusanku dengannya terkadang sama sekali dianggap bukan remeh. Seperti saat aku bercerita mengenai kehidupanku sebelum masuk penjara. Aku pernah bertengkar gara-gara aku dekat dengan seseorang.

Aku menceritakan dengan percakapan demikian ini:

“Dulu aku pernah menemui sesosok wanita paling menarik.” 

Aku mengatakan hal semacam itu sambil mengamati pergerakan wajahnya. Kulihat kali ini singa itu seolah-olah menanti mangsanya menunjukkan kelengahan agar bisa diterkam olehnya.

“Apakah wanita itu lebih tua darimu?” tanyanya bahkan sebelum aku mendeskripsikan apa yang membuatku tertarik. Tapi ya sudahlah, akan aku turuti permainannya.

“Dia jauh lebih tua sebanyak panjangnya penggaris dalam ukuran meter.”

“Maksudmu apa?”

“Dia adalah wanita yang terasa tidak akan pernah bisa aku gapai,” sambil sedikit menghela nafas, aku melanjutkan ceritaku, “saat aku mendekatinya, aku selalu melihat suatu jarak pemisah antara aku dengan dirinya.”

“Apakah kamu mencintainya?”

“Nah, itu juga pertanyaan terbesarku.” 

Saat aku menjawab seperti itu, kulihat wajahnya seperti kebingungan. Mungkin seorang singa menanggapi bahwa ceritaku kali ini sulit untuk bisa dimasukkan dalam kategori mangsa atau bukan. Meski tidak terlihat secara jelas, tapi sang singa agak sedikit mundur diri pertanyaannya. 

“Dia memang menarik. Wajahnya bagaikan rembulan di tengah gelapnya kejahatan-kejahatanku. Untuknya, aku berani membalikkan sungai penuh kebahagiaan menjadi surga penuh dengan kebencian,” lanjutku.

Kepalanya menggangguk-angguk seolah setuju dengan pernyataanku. Apakah dia punya kekasih atau tidak? Terkadang satu sama lain tidak terlalu berani mempertanyakan masalah pribadi. Selalu ada suatu batasan dalam penjara ini, meski tidak terlalu tampak.

“Jadi, karena dirinya kamu memulai kejahatanmu?” tanyanya.

“Aku bukanlah penggapai cinta dengan cara seperti itu. Justru karena aku melakukan kejahatan, aku bertemu dengan cahaya rembulan itu.” 

Mulutnya langsung menyeringai dan tertawa terbahak-bahak. Sepertinya sang singa menemukan mangsa cocok dengan nafsu makannya.

“Lalu, apakah kamu berhasil mendapatkan hatinya?” tanyanya.

“Itulah kenapa aku menjadi ragu. Aku telah berbuat dosa sebegitu besarnya. Apakah kecantikannya selalu indah untuk disandingkan denganku? Atau justru jika aku mendekatinya, bunga mungil itu menjadi layu?”

“Tunggu, tunggu. Dia sebenarnya lebih tua ataukah lebih muda darimu?”

“Aku tidak pernah ingin mengerti, karena cahaya cinta tidak perlu mengerti alasan atas dasar apa seseorang menyukai lainnya.”

Demikianlah cerita singkatnya, setelah itu aku berdebat habis-habisan dengannya.

Posting Komentar

1 Komentar