Cerita Bersambung Taufik Juang Dwiadi: Hitam Putihnya Penjara - Bagian III dan IV

 


Tokoh:

0721 : tokoh utama

0192 : seorang perempuan

0378 : tokoh dengan banyak peran

A__e_ : nama asli tokoh utama yang tidak terungkap

____ dan ____ : dua orang perempuan dalam bagian V

0492 : kakak dari seorang adik

??? : penghuni sebelah 0721 yang mencintai 0492, seorang mantan narapidana: manusia bebas yang kabur dari penjara

III

Aku mengenalnya baru-baru ini, kemarin, sepertinya. Tetapi waktu akan menertawakanku jika aku benar-benar mengatakan bahwa baru sehari lalu aku mengenalnya.  Dalam sel penjara, namanya 0721. Nama aslinya A__e_. Entah mengapa saat aku ingin memanggil namanya, dia selalu memutus pembicaraanku, padahal setiap manusia selalu menginginkan namanya untuk diakui. Apakah itu nama aslinya atau bukan, aku tidak berani bertanya. Aku juga tidak mengerti bagaimana alur maupun plot perjalanan pikirannya. Aku bertemu pertama kali dengannya bukanlah saat kejadian seperti pertemuan wajar milik orang lain. Aku bertemu dengannya saat sedang berada di toilet.

Kejadiannya seperti ini. Suatu saat, ada seorang pengawas sedang melakukan inspeksi tak terduga. Sayangnya, inspeksi itu bocor karena saluran kran dari suatu kamar mandi lupa untuk ditutup. Apa maksudnya? Terkadang suatu jenis informasi disebarluaskan menggunakan kode enkripsi tak terduga atau sama sekali tidak disembunyikan. Aku, secara tidak sengaja dan akan kujelaskan seperti itu, mendapati informasi itu. Maka aku menyampaikan kerahasiaan itu lewat kamar mandi. Pertama-tama, aku menyalakan kran pada wastafel di sudut kiri. Di ruangan itu, terdapat tiga wastafel. Biasanya, untuk orang-orang paling perhatian pada detail, di tengah adalah untuk orang-orang yang keluar dari titik tengah. Maksudku, aku tidak peduli pada orang-orang seperti itu.

Rahasia selalu disampaikan untuk orang-orang yang menyembunyikan dirinya. Wastafel paling kiri memang dapat dicapai dengan berjalan agak jauh. Tetapi, di sanalah perputaran informasi berlaku dan informasi ini kuberikan untuk mereka yang memang berhak menerima. Setelah aku ‘lupa’ mematikan wastafel paling kiri, aku menyelipkan sebuah kertas coretan pada sebuah cermin. Cermin bukanlah cermin seperti yang aku maksudkan. Aku menaruh informasi itu pada dekat sel kamarku karena di sanalah aku mencerminkan kejahatan hidupku. Aku sedikit mencoret-coret warna kamarku. Kutampakkan sedikit perbedaan, meskipun banyak orang tidak menyadarinya. Aku ‘tuliskan’ mengobrak-abrik kamar, agar mengerti bahwa akan ada pembukaan rahasia. Memangnya apa hubungannya? Entahlah. Orang-orang di sel penjara memang terlalu punya banyak waktu luang sehingga tidak tahu bagaimana cara untuk menghabiskan waktu paling baik.

Dia menyadarinya, dan bukannya menemuiku, tapi dia malah menuliskan bahwasanya aku kurang baik dalam menjalankan operasi itu. Memangnya berapa kemungkinan kran tidak dimatikan ditemui oleh orang lain dan tidak diberhentikan aliran airnya? Mungkin dia pintar mengamati meski hanya menemukan keanehan selku saja tanpa menemui informasi pertama dariku. Tetapi, aku berterus terang bahwa aku memulainya di kamar mandi. Pada tempat di mana orang-orang membuka rahasia kelamnya dengan berterus terang pada air yang mengalir. Demi membasuh luka-luka perang, maupun kejahatannya, manusia merelakan dirinya untuk berdiri telanjang beberapa menit. Meski di luar kamar mandi, satu sama lain berusaha menelanjangi lainnya agar bisa dicari kesalahan-kesalahannya.

Tulisannya berkata bahwa dia akan memperlihatkan rahasianya kepada para pengawas. Sambil mengedipkan mata kepadaku, dia justru mencopot celananya dan hanya menggunakan celana dalam saat inspeksi itu terjadi. Otaknya terasa agak sedikit miring, tapi siapapun akan tertarik saat kejadian semacam itu terjadi kepada mereka. Sejak kejadian saat itu, kita berkenalan dan dari waktu ke waktu, aku dan dia semakin dekat. Sayangnya, dia selalu tidak suka untuk dipanggil namanya.

***

Cermin… 

Untuk kata itu, manusia melihat dirinya melalui berbagai sudut pandang. Mungkin terlihat aneh jika aku menjelaskan bahwasannya kamar selku adalah cermin itu sendiri. Dikatakan oleh orang-orang, bahwa bangunan ciptaanmu juga menciptakan dirimu sendiri. Ruangan tempatmu bekerja juga dapat menampakkan suatu gambaranmu pula.

Setelah aku lama berkenalan dengan 0721, aku menceritakan padanya definisi cerminku. Aku jelaskan kepadanya bahwa sel milikku adalah cermin untukku. Saat kujelaskan hal ini, dia tertarik untuk melihat selku menggunakan sudut pandang jauh dan dekat.

“Apa yang kamu dapatkan dari pengamatanmu?” tanyaku kepadanya karena penasaran terhadap apapun pernyataan milik seorang kawanku terhadap aku.

“Kudapati bahwasanya antara selku dan selmu tidak ada banyak perbedaan.” 

Sembari mengatakan itu, tiba-tiba dia mencoba untuk menidurkan dirinya pada tempat di mana aku menyebutnya sebagai kasur. Mungkin keras, bisa pula lembut. Bagiku, asalkan itu tempat di mana aku dapat beristirahat tidak menjadi masalah besar.

“Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?”

“Karena aku melihat bahwa dalam penjara ini, sel kamar memang diciptakan sama semua.” 

Saat aku mendengar kalimatnya, rasanya aku cuma menghela nafas saja. Tidakkah ada suatu perbedaan antara milikku dan miliknya? Walaupun sama-sama memiliki suatu ikatan dan batasan, bukankah satu sama lain diciptakan berbeda namun saling melengkapi?

“Apakah kamu tidak merasakan perbedaan di sana?”

“Aku memang merasakannya sejak aku menapakkan kakiku ke dalam selmu. Tetapi, untuk zaman ini, manusia lebih suka mencari perbedaan.” 

Lagi-lagi rasanya dia mengajakku untuk menciptakan perbedaan pendapat. Aku lebih suka jika dia mengakui eksistensiku yang lebih menonjol dibandingkan lainnya. Mengapa semuanya harus disamakan?

Namun, kemudian ia tiba-tiba melanjutkan pembicaraannya. 

“Tidak perlu marah-marah, aku mengerti bahwa seragam terkadang membuat perbedaan terasa dikekang. Hanya saja dari persamaan, kita dapat mengerti bahwa manusia juga manusia. Itu saja.”

“Kamu mau menantang aku untuk berdebat?”

“Seandainya berdebat bisa menyelesaikan masalah, maka boleh-boleh saja. Aku lebih suka kebersamaan dan mengobrol bersama ketimbang berusaha menyalahkan satu sama lain.” 

Sepertinya penjahat ini bisa kukatakan pintar menipu orang lain. Seandainya dia mau meluruskan sedikit kebaikannya untuk keburukan, sangat berkemungkinan untuk mempunyai korban dalam jumlah besar dan terus mengalirkan suara gemericik ‘kebahagiaan’. Maksudku, uang dalam jumlah yang banyak.

“Jadi, kamu ditangkap dan dimasukkan ke penjara karena apa?” Tanyaku penasaran apakah dia dijebloskan karena menggunakan kapasitas pemikirannya untuk melakukan keburukan, sehingga dirinya dikerangkeng dan dilemparkan ke dalam suatu kepedihan.

“Aku terlalu pintar. Dikatakan hal itu oleh banyak orang. Seperti saat orang terlalu tampan dibuang dari suatu tempat, orang pintar di tempatku justru dimasukkan dalam sel untuk eksperimen, sepertinya.”

Wajahnya terlihat sedikit menampakkan kesedihan yang secara langsung digantikan dengan wajah seperti biasanya.

“Atas hak apa manusia mencabut kebebasan orang lain?” 

“Aku mendengar bahwasanya karena wajib ditangkarkan. Bisa karena terancam punah, ingin dipelajari, atau terlalu ‘sayang’ untuk dilepaskan.” 

Semakin lama dia menjelaskan alasannya, semakin tampak ekspresi kesedihan pada wajahnya.

“Kalau begitu, kamu ditangkap bukan karena kejahatanmu?”

“Itu pertanyaan bagus. Aku juga tidak begitu mengerti mengapa aku harus berada di penjara.”

“Kenapa tidak menjelaskan bahwasannya kamu cuma korban dari keadilan dunia?”

“Percuma. Palu hakim selalu ditempatkan pada mulut kebenaran. Demi mempertahankan stabilitas, diciptakanlah kambing hitam untuk menerima segala kesalahan meski itu bukan miliknya sepenuhnya.”

Setelah dia menjelaskan hal ini, aku lihat dia ingin segera pamit dan kembali pada selnya untuk beristirahat sejenak.

Apakah sejenaknya dimaksudkan untuk selamanya, aku tidak akan pernah tahu.

IV

Orang merasa bahwa dikejar anjing adalah suatu anugerah tersendiri. Diceritakan olehku sendiri bahwa saat aku merasa berlari-lari dari kejarannya, kulihat seorang perempuan dengan keindahannya sendiri, hingga kulupakan kesengsaraanku karena dikejar anjing, aku menoleh pada ketertarikan dalam hatiku sendiri. Apakah anjing itu benar-benar termasuk anjing atau bukan, aku merasa bahwa kehidupanku telah lama dikejar-kejar. Seperti saat orang mengamati bahwa besarnya gunung tidak menandakan apa-apa kecuali bayangan kecil jika dilihat dari kejauhan. Anjing itu memang besar, tapi di mataku dia terbayang dengan kecil-kecilan. Setidaknya, wujud sebenarnya dijauhkan dari pandanganku. Paling menonjol di mataku hanyalah wanita itu. Mungkin buah dadanya. Kalau orang berbicara menonjol, bukankah yang dipikirkan adalah bagian atas atau bawahnya?

Aku terdiam saat sesosok keindahan itu ditampilkan padaku. Kalau aku ingin bertanya pada perasaanku, apakah detak jantungku menjadi cepat karena aku dikejar-kejar atau melihat penampakan hantu itu? Aku menggunakan kata hantu, karena terkadang aku tidak pernah mengerti kenapa dia tampil tiba-tiba dan tidak terduga seperti diambil dari suatu adegan film-film horor. Suasananya pun juga ikut serta mengelilingiku. Semuanya tegang. Seolah-olah untuk menelan ludahku saja, gerakan air liur dalam mulutku benar-benar terasa berat. Entah apa kegiatan anjing itu saat aku menikmati pemandangan, satu kepastian masa laluku menceritakan bahwa bokongku tidak digigit olehnya. Apakah aku dikencingi oleh anjing itu atau tidak, aku tidak akan pernah benar-benar tahu.

Karena aku tertarik padanya, maka aku mempelajari siapa itu wanita. Mengapa saat senyuman miliknya terbentuk, saat di mana aku mengalami kesedihan, sehingga membuatku dapat merasakan suatu rasa kebahagiaan adalah salah satu pertanyaanku dari sekian banyak pertanyaan lainnya. Ada pula tentang mengapa perbedaan antara wanita dan pria diciptakan sebegitu besarnya?

Aku mencari buku referensi paling tepat untuk persoalan seperti ini. Aku ambil dari rak buku bertemakan percintaan karena aku merasa bahwa seorang wanita merasa ingin dicintai. Aku ambil secara acak dari ratusan mungkin ribuan buku dan kutemukan bahwasanya aku tidak mengerti bahwa suatu buku terkadang disembunyikan secara umum. Ada buku yang sengaja diletakkan pada rak berbeda karena tidak ingin diketahui oleh banyak orang atau sejujurnya untuk orang-orang tercinta saja buku ini dipersembahkan? Aku tidak peduli. Aku ambil buku percintaan yang terpisah dari kawan-kawannya dan aku satukan dia dalam kawanan awalnya.

Terkadang, aku jadi bepikir ulang. Sejak kapan manusia dapat mengerti bahwa buku miliknya benar-benar miliknya? Saat aku membuka buku itu, kulihat nama pengarang dengan tulisan kebanggaan. Setidaknya aku merasa bangga karena manusialah si pencipta buku itu. Seandainya bukan manusia, sudah pasti aku berpendapat bahwa dia tidak dapat berpikirLalu kubalik-balikkan halamannya. Kudapati kata cinta di sana. Apa hubungan antara detak jantung dan cinta? Kalau orang mengalami kecelakaan, maka detak jantungnya terasa benar-benar cepat atau lambat? Pernah aku alami berkali-kali jatuhnya sepeda motorku di jalan raya. Kurasakan bahwa selain aspal itu panas, luka juga dapat berdarah seiring pergesekan dapat terjadi. Menciumi aspal juga tidak membahagiakan karena panasnya benar-benar membakar seluruh raga milik seseorang. Apa maksudku? Entahlah. Aku hanya berandai-andai mengenai apa itu kehidupan sebenarnya. Bukan, bukan. Aku ingin memahami wanita. Setidaknya, mengapa sesosok wanita itu dapat membuat duniaku terasa berbeda.

Aku membaca buku itu secara seksama. Dituliskan seperti ini: cinta diciptakan atas suatu kesalahan, karena manusia tidak sempurna, dia menginginkan kesempurnaan. Apa ini? Ini adalah kalimat terbodoh sepanjang hidupku. Setidaknya aku mengerti bahwa getaran hati manusia dapat terasa dari pangkal rambut sampai ujung kaki karena ada ketertarikan kepada orang lain. Bukan karena kesempurnaan, tapi atas suatu rasa gila yang tidak wajar. Bayangkan saja. Siapa yang berani mengatakan bahwa manusia tidak sempurna? Dia adalah makhluk tidak kenal malu. Kalau penulisnya adalah manusia, aku meyakini bahwa dia tidak sempurna. Apa artinya kesempurnaan? Mau manusia sempurna atau tidak, bodoh amat dengan segala pandangan. Aku tahu kalau untuk menjadi manusia, orang hanya perlu mengenal dirinya sendiri, sehingga mengenali pula dirinya lewat orang lain. Orang bisa berpendapat mengenai apapun. Aku hanya mencari kenapa aku bisa tertarik pada wanita itu.

Aku membaca buku itu di suatu tempat tersembunyi milikku. Perlu dijelaskan bahwasanya tempat tersembunyi tidak punya maksud apa-apa selain menyatakan bahwa hidupku terkadang terasa dikutuk oleh nenek sihir. Seandainya ini adalah cerita dongeng dan aku merasa bahwa diriku adalah seorang putri kerajaan yang berhak atas apapun itu selain kebahagiaan, maka aku pasti memakai bahasa seperti itu. Sayangnya aku laki-laki dan aku juga tidak dilahirkan di negeri dongeng. Maka ceritaku pun sedikit berbeda. Tempat tersembunyi menjelaskan bahwa aku dikutuk agar menjadi seekor katak. Hidupku terus berusaha untuk melompat-lompat dari bebatuan satu ke lainnya. Mencari hewan-hewan terbang meskipun aku hidup di atas tanah. Makhluk lain bisa juga memangsa hewan sepertiku untuk bertahan hidup. Asalkan sebagai katak aku dapat menghindari pemangsa kelas atas, hidupku pasti aman-aman saja. Setidaknya itulah keyakinanku kalau hidupku aku baktikan untuk menjadi katak sejati. Seperti dongeng-dongeng yang terciptakan oleh para pujangga.

Setelah mendalami buku itu hanya dengan membalik-balikkan halaman, aku malah tidak mendapati apapun. Untuk mempercepat pencarianku, akhirnya tulisan di dalamnya sama sekali tidak aku baca dan hanya membalikkan halaman sampai akhir. Meskipun buku berharga karena tulisannya, tapi aku merasa kalau cinta yang aku cari tidak akan kutemukan di dalam tulisannya.

***

Keindahan bintang punya ragam pemaknaan tersendiri. Berbeda pula keindahan kebahagiaan yang dicintai. Jika bintang dapat dirasakan keindahannya meski jauh di angkasa, maka seorang pencinta justru menginginkan kedekatan. Perasaan untuk mengenal siapa cintanya, membantu kehidupannya, melihat senyumannya, menghabiskan waktu bersama. Keinginan seperti itu seringkali tidak dapat ditahan dan ingin selalu diperkenankan. Hijaunya daun pun bisa pula mengatakan hal sama. Tumbuh karena sinar cinta milik selainnya, dia memasak kebutuhannya tanpa pernah ingin mengecap bahwa hilangnya sinar matahari dapat menjadikan dirinya layu. Setidaknya dia tidak akan senang untuk menutupi dirinya terhadap cahaya dan membohongi bahwa sang surya bukan termasuk kebutuhannya.

Apakah perpisahan harus selalu berakhir dengan tangisan? Saat kelulusan, seorang pelajar dapat menangisi kepergian hari-harinya. Dalam suatu perasaan lainnya, seolah-olah dia mengatakan kata 'tidak' pada perubahan itu sendiri. Sekaligus menatap orang spesial miliknya, dia berharap akan suatu kebersamaan. Dengan demikian, aku menatap kepergian wanita itu, ataukah aku yang pergi meninggalkannya? Dijelaskan bahwa perbedaan dunia bukanlah cara paling tepat untuk dipersatukan, atau sejujurnya, aku tidak merasa bahwa seandainya kami bersatu, apakah ia akan mendapatkan kebahagiaan sebagaimana keinginannya?

Aku adalah seorang kriminal. Setidaknya, kebahagiaanku akan lebih sulit untuk kudapatkan karena aku telah mendapatkan suatu label penjahat di mata masyarakat. Kakiku telah diborgol kepada suatu aturan keadilan masyarakat. Impian hanyalah segudang daftar kepedihan lainnya. Ke manakah aku harus pergi? Apakah aku dapat melepaskan kepergiaan mimpiku?

Aku pernah menuliskan daftar nama milik orang-orang dari masa laluku. Ada orang bernama kebencian. Pemilik nama tipuan pun juga pernah kutemui. Berlabel pencuri juga tidak jarang untuk ditemui. Semuanya punya namanya masing-masing. Untuk menjelaskan bahwa mereka adalah orang baik tidak perlu aku mengatakan dengan banyak sebutan lainnya. Cukuplah nama kriminalitasnya menjelaskan kebaikan kejahatannya di mata masyarakat. Untuk orang bernama perpisahan, apakah kenyataanku menyuruh menamainya pada perempuan itu? Sebesar apakah perasaan matahari, sehingga manusia dapat merasakan panas meskipun jaraknya benar-benar jauh dari permukaan bumi? Mengapa tidak ada jawaban paling mudah untuk membuatku menyadari kalau dirinya bisa untuk tetap berada di sini? 

Jika pergerakan ular dapat pula untuk melilit seekor mangsanya, mengapa ia tidak menggunakan racunnya agar seseorang mengetahui bahwa dia adalah ular? Mungkinkah manusia ketakutan untuk ditolak dan dihindari oleh orang yang dikasihinya? Siapakah aku? Sebuah racun berbahaya ataukah pengikat cinta?

Aku terdiam di tempat tidurku, menatap layang-layang beterbangan karena diterbangkan oleh anak-anak kecil penuh keriangan. Satu sama lain saling beradu dan bercanda tawa bersama. Pada kenyataannya, aku hanya melihat batas penghalang antara aku dengan langit. Penjara. Di hadapan mataku, hanyalah sebuah tembok ciptaan manusia. Atap yang tidak dapat ditembus, tapi dinantikan keterbukaannya. Diamku kupenuhi dengan ambisi agar aku dapat mencintai kehidupanku. Apakah duniaku pernah menyuruhku untuk berhenti menuliskan sejarah kebaikanku? Manusia memang terus hidup karena bantuan satu sama lain. Tiap manusia pun berupaya saling mempercayai. Dan hal paling mudah untuk dipercayai adalah kebaikan. Manusia takut untuk dijatuhkan ke dalam suatu sumur tanpa ada penolong satu pun. Tidak perlu sumur dengan pertunjukkan paling menarik. Cukuplah sumur dengan lorong-lorong kegelapan di mana suatu ketakutan seorang manusia sulit untuk dihalangi perkembangannya. Diam untuk beberapa waktu, bulu kuduk dapat berdiri dengan mudah. Menutup mata hanya semakin membuat keringat dingin bercucuran menembus pakaian bernama keberanian.

Mengapa semuanya harus pergi? Apakah dunia harus semakin menjadi dingin? Bagaimana bisa kehangatan kekasih sebegitu mudahnya terlepas dari tanganku?

Tidurku terus terganggu. Waktu istirahatku terasa berjalan secara lambat. Perasaanku luruh dalam derasnya air terjun keputusasaanku. Apakah air mata mengalir dari mana aku mengamati kepergian wanita itu? Tubuhku terasa disergap oleh kehampaan. Seperti semuanya berjalan sia-sia tanpa pernah mengerti ke mana sesungguhnya aku ingin pergi.

Melihat pengawas berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya sering membuatku merindukan getaran-getaran kaki wanita itu. Apa yang terjadi padaku? Kurang ajar. Langkah kaki pengawas memang tidak sama dengannya. Pikiranku juga stabil dan tidak dikuasai oleh siapapun. Kebebasan gerakan pengawas mengingatkanku untuk menemani langkah kehidupan wanita itu.

Kapankah kunci pengawas dapat jatuh dan membuat penjara ini terbuka? Tubuhku terluka sementara 0378 justru kembali mengingatkanku pada kenangan masa laluku. Jiwaku merindukan suatu kegembiraan. Setidaknya aku berharap bahwa angin dapat meniupkan keharuman bau wanita itu kepadaku. Lalu angin pulalah yang membuat wanita itu menyadari bahwa aku di sini. Aku menanti kedatangannya. Berusaha menjemput kebahagiaannya. Juga menatap tawanya yang tidak akan pernah aku lupakan. Sebisa mungkin tatapan panas miliknya bisa untuk kulepaskan. Aku merindukannya. Menginginkan suaranya. Menghendaki pesonanya. Berupaya menggapai mimpi miliknya. 

Kugerakkan tanganku seperti berusaha menggapai sesuatu, mungkin angin, bisa pula harapan atau sekedar cita-cita palsuku. Aku kemari bukan untuk membiarkan kebebasanku direngut, justru karena aku kehilangan dirinya, aku mengenal apa itu kebebasan.

Posting Komentar

0 Komentar