Cerita Bersambung Taufik Juang Dwiadi: Hitam Putihnya Penjara - Bagian VIII

Tokoh:

0721 : tokoh utama

0192 : seorang perempuan

0378 : tokoh dengan banyak peran

A__e_ : nama asli tokoh utama yang tidak terungkap

____ dan ____ : dua orang perempuan dalam bagian V

0492 : kakak dari seorang adik

??? : penghuni sebelah 0721 yang mencintai 0492, seorang mantan narapidana: manusia bebas yang kabur dari penjara

VIII

Perkerjaan menggunting pernah menjadi suatu masalah besar bagiku. Maka dari itu, musuh besarku bukanlah gunting itu sendiri, melainkan kertasnya. Karena gunting berupaya memisahkan perkenan orang tua kepada seseorang kekasih, maka aku hanya membenci betapa tipisnya keinginan manusia untuk memahami bahwa hidup ini punya keragaman warna.

Namaku ???, seorang pencuri ulung. Begitulah julukan yang paling aku sayangi sepanjang kehidupanku kali ini. Walaupun sebelum dipenjara, aku memang cuma orang biasa-biasa saja. Hanya setelah aku menemui seseorang dalam penjara inilah, kejahatanku semakin tajam dan lebih sulit untuk terdeteksi. Mudahnya, aku semakin berilmu.

Aku mengenalnya, si 0721, pertama kali saat memandanginya pergi berdua dengan 0192. 0192, nomor itu memang cukup terkenal katakanlah karena suatu ‘kecantikan’ yang membuatnya kena masalah besar. Aku sebagai pengamat ketiga, sering memperhatikan keanggunan langkahnya, pun mengenai kepribadiannya. Tidak dapat disangkal bahwa dia termasuk dalam daftar wanita cantik milik banyak orang.

0721 menyadari keberadaanku saat aku sedang melakukan usaha pelolosan diri dari penjara. Pertama-tama, aku membeli dua cangkir kopi untuk menyembunyikan fakta bahwa pada malam hari aku sama sekali tidak tidur. Siang harinya, aku menyembunyikan diriku dalam selimut untuk menghilangkan kepribadianku, sehingga terlihat seperti orang tertekan. Selanjutnya, aku membeli beberapa ketajaman benda untuk dilemparkan kepada para petugas. Maksudku, kuciptakan suatu alat di mana kesalahan semakin tidak mudah untuk diperhatikan. Dalam beberapa waktu saja, semuanya terasa sudah beres, tinggal menunggu waktu dan bagaimana caraku mengeksekusi rencana.

Mungkin 0721 adalah pengamat yang jeli. Karena itu, saat melihat gerak-gerik anehku, dia mendatangiku dan menanyaiku suatu keterangan. Awalnya memang aku menutup diri darinya, tapi setelah tahu bahwa dia akan membantu merencanakan kebebasanku, aku pun membuka informasi milikku. Pertanyaannya padaku pertama kali adalah perihal jumlah orang dalam melakukan aksi ini. Aku menjelaskan bahwa hanya satu orang saja, yaitu aku. Saat ditanya mengenai alasannya, aku menjawab karena aku telah dianggap sakit-sakitan, maka kadar pengawasan terhadapku dikurangi secara drastis, sedangkan pengawasan terhadap orang lain, sama sekali tidak.

Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Setelah itu, katanya, dia akan memberiku informasi lainnya jika aku mau menunda eksekusi selama dua hari. Rencana awalnya memang dua hari setelah ini. Saat kutanya tentang alasannya, dia hanya tertawa saja. Namun, dia memang memberiku suatu informasi penting mengenai beberapa pengawas, sehingga aku menurutinya saja. Mungkin aku menyesal bahwa aku telah bertemu dengannya. Entah mengapa, penyesalan selalu datang terlambat. Apalagi saat mengerti bahwa kesempatan emas itu memang benar-benar emas asli dan bukan campuran. Masalahnya, janji adalah janji, karena itu aku menanti dua hari demi suatu kebenaran miliknya. Setelah aku menanti dua hari, dia menemuiku lagi dan mengatakan alasan mengenai permintaannya untuk menunda aksiku.

“Dua hari sebelumnya, seorang manusia mati terbunuh.” 

Saat dia berkata demikian, aku menduga mungkin dia seorang peramal atau apalah, tapi dia menggeleng-gelengkan kepala saat aku tanyai seperti itu. Seolah pertanyaan itu tidak pernah ada, dia melanjutkan perkataannya.

“Tiga hari sebelumnya, lukisan dinding di suatu tempat telah tercuri.” 

Kepalaku pusing mendengarkan kalimatnya. Ingin segera aku tinggalkan dia, akan tetapi sepertinya tidak ada salahnya mendengarkan kalimat-kalimat aneh dari mulutnya.

“Kebebasan akan ditemui bukan tergantung pada keajaiban. Usaha juga memiliki pola sama dengan keajaiban,” lanjutnya.

Segera saja aku tinggalkan dia karena benar-benar menggangu kepalaku dari rencanaku untuk membebaskan diri dari penjara ini. Malam harinya, semua persiapan telah usai, tapi dia menguntitku dari belakang, sehingga kubatalkan aksiku.

“Apa sih maumu?” tanyaku karena tidak sabar terhadap keusilan dirinya. 

Merasakan kemarahan menguar dari sekujur tubuhku, dia meminta maaf seraya mengatakan bahwa aku bukanlah manusia yang dapat membebaskan diri dari penjara ini. 

Sialan.

“Kalau begitu, lihat saja!” 

Maka aku meninggalkannya dan dia membiarkanku pergi. Karena rencanaku memang berjalan mulus ditambah informasi darinya mengenai beberapa pengawas, aku berhasil meloloskan diri dari penjara ini tanpa terdeteksi siapapun. Namaku juga tidak muncul pada daftar pencarian walaupun seminggu telah berlalu sejak aksiku saat itu, seperti tidak terjadi perubahan pada jumlah penghuni penjara.

***

Aneh, ini benar-benar aneh, pikirku. 

Bagaimana bisa aku terlewatkan dari pengawasan penjara, sehingga seolah-olah tidak terjadi apapun? Rasa penasaranku membawaku bertemu untuk mengunjungi dirinya, 0721, bukan sebagai penghuni penjara, hanya sebagai pengunjung. Aku merasa keganjilan ini sepertinya terjadi karena ulahnya, tak salah lagi, pasti ulah orang itu.

Agar aku tidak ditangkap, maka aku menyamar dengan menggunakan identifikasi nama lainnya. Setelah melalui suatu proses panjang, dibolehkanlah diriku untuk menjumpainya kembali di penjara itu. Bukan sebagai sesama penghuni, tapi sebagai pengunjung dan penderita kesepian. Ingin sejujurnya kutanyakan kepadanya mengenai bagaimana caranya menggelapkan diriku hingga tak terdeteksi.

Kulihat wajahnya berwatak lemas. Seperti dia ingin menampilkan bahwa di dalam penjara, semuanya tetap berjalan sediakala. Makanan disediakan, minuman juga tidak lupa, istirahat diberikan dalam kadar waktu yang cukup, kegiatan juga memiliki banyak waktu luang, dan kewajiban juga tidak terlalu berat. Namun, itu semua tidak penting. Aku berusaha menanyakan perihal alasan kebebasanku yang tidak disadari oleh orang lain.

Dia lebih banyak diam. Seolah meniru alibi sakit-sakitanku waktu itu, dia lebih banyak menundukkan kepala. Ditanya menggunakan bagaimana, jawabannya cuma ‘iya’. Lain pertanyaannya, jawabannya pun antara tidak dan iya. Setelah melalui negoisasi yang cukup panjang, akhirnya dia mau mengobrol dan membuka sedikit rahasianya. 

Dia menunjuk langit sambil berkata, “luasnya langit dapat melupakan kehangatan sinar matahari.”

Selanjutnya, dia bertepuk tangan seraya menjelaskan mengenai lebarnya lapangan pada suatu pertandingan. 

Berbicara dengan orang ini, memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Itulah kesimpulanku dari kalimat-kalimatnya.

Kalimat ketiga keluar dari bibirnya seraya dengan tatapan matanya padaku, sembari berusaha menunjukkan angka dua menggunakan jari tangannya, “terpisahkan dan akan selalu tidak dapat digenggam.” 

Setelah itu, semuanya hening. 

Aku segera mengakhiri pertemuan itu karena rasa lelah yang luar biasa saar menghadapinya. Aku merasa lebih baik untuk tidak menemuinya lagi. Setelah itu, aku menikmati kebebasanku seperti sedia kala. Hanya saja, kali ini ada catatan pencarian orang. Bukan aku, tetapi orang lain. Lagi-lagi, atas dasar apa aku merasakan suatu rasa penasaran bahwa aku sama sekali tidak dicari?

Sebenarnya siapa yang dicari dan mengapa aku masih tetap hidup? Aku merasa kebingungan. Aneh, semuanya terasa mengganjal di hatiku. Bukankah seharusnya aku dapat bersenang-senang karena aku telah memperoleh kebebasan seperti keinginanku? Mengapa dan mengapa aku malah merasa ada sesuatu yang salah dalam keberhasilanku ini?

***

Suatu ketika, aku mendapat surat yang datang dari penjara itu. Surat tanpa nama, tapi menggunakan angka saja. Tertulis dari _____ untuk ______. Kubuka surat itu karena rasa penasaranku, mungkin inilah kode penjelasan dari orang itu.

Kulihat isi surat itu hanyalah robekan-robekan kertas. Untuk menyusunnya saja, membutuhkan banyak waktu. Pada kertas itu, hanya ada tiga kalimat pertanyaan sebagai suatu ungkapan perpisahan, mungkin. Aku tidak memahami maksud dari kalimat-kalimat itu.

Pertanyaan pertama: berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyusun kembali kertas ini ke keadaan semula?

Oke, kalau itu maunya, akan kusertakan pembagian waktu untuk menyatukan kertas ini. Menyatukan kanan dan kiri membutuhkan waktu dua belas detik. Memisahkan apa yang dianggap satu dari suatu bagian pojok kiri membutuhkan waktu tiga puluh detik. Membuat kertas baru dibandingkan menggunakan kertas lama hanya mengurangi waktu sekitar satu detik. Melampaui ukuran dan berbuat semuanya hanya membutuhkan kemauan tanpa berpikir mengenai tentang konsekuensi selanjutnya. Untuk berpikir bahwa semuanya terasa kembali seperti semula, membutuhkan waktu seumur hidup jika dibandingkan waktu-waktu lainnya.

Pertanyaan kedua: kapankah kertas ini mengubah dirinya sendiri?

Dituliskan bahwa tidak ada catatan jawaban apapun pada kertas ini. Iya, benar-benar ditulis bahwa tidak ada catatan apapun mengenai hal ini. Aku berpendapat, sekiranya kertas dapat mengubah dirinya sendiri, mungkin, dia harus menyelam ke dalam air, sehingga komposisi dirinya berubah. Meskipun sama-sama kertas, akan tetapi lebih mudah dihancurkan.

Pertanyaan ketiga: ada apa dengan dirimu?

Ini seperti sama sekali tidak punya hubungan dengan dua pertanyaan sebelumnya. Tertuliskan bahwa petunjuknya terletak pada dua pertanyaan sebelumnya. Tapi, apanya yang membantu? Justru kedua pertanyaan itu hanya menambahkan masalah baru saja. Mengapa manusia tidak bisa benar-benar selesai dari suatu masalah?

Maka, demikianlah pikiranku diberhentikan. Aku menjauhkan diri dari surat ini sambil memesan minuman paling pahit agar merasakan pahitnya hidup di lidah saja, semoga. Sambil menyeruput kepahitannya, aku mengamati kembali dengan harapan untuk menemui pandangan baru dari petunjuk orang aneh ini. Aku melihat pertanyaan pertama; tentang waktu, barangkali tentang batas usia seseorang. Kulihat kalimat jawaban miliknya.

“Menyatukan kanan dan kiri membutuhkan waktu dua belas detik.”

Seringkali, anak-anak pada usia muda lebih mengerti apa yang dinamakan persatuan daripada orang-orang dewasa. Dua belas detik dari kalimat ini sejujurnya menunjukkan bahwa dia yang masih hijau. Untuk penyatuan perbedaan, anak kecil dapat lebih mengerti karena ia memiliki kemauan untuk bermain dengan siapapun juga. Mereka juga cepat memaafkan kesalahan satu sama lain. Mungkin, inti dari kalimat ini sejujurnya tentang suatu uraian pembantu bahwa orang dewasa tidak boleh melupakan sifat kanak-kanaknya pada masa lalunya. Meski anak kecil memang selalu tidak banyak mengerti mengenai cara manusia menjalani hidup, pengetahuannya yang polos selalu dapat dipelajari oleh siapapun.

“Memisahkan apa yang dianggap satu dari suatu bagian pojok kiri membutuhkan waktu tiga puluh detik.”

Untuk kalimat ini, mungkin sebenarnya tidak perlu dicari tahu maknanya secara panjang lebar. Untuk menggapai kesuksesan, jalan apapun untuk menggapainya sering dianggap diperbolehkan meski dengan pengorbanan orang lain. Manusia pada usia dewasa, sering kali melupakan kalau masyarakat adalah kumpulan manusia. Bukan hanya tentang aku maupun kamu. Dengan demikian, saat menginjak usia matang, seseorang justru lebih suka bermusuhan daripada bertemu. Saat kita melihat berbagai perubahan dalam dunia, kita juga selalu ikut terhanyut pada arus besar hidup yang seringkali membuat kita mengacuhkan orang-orang di sekitar kita. Apakah perlu dicari tahu pemaknaan detik pada kalimat itu? Detik dalam kalimat kali itu sejujurnya lebih kepada keadaan saat seseorang mencapai kesuksesan.

Satu menit terdiri dari dua kali tiga puluh detik. Dalam suatu petuah, saat kita memiliki satu gunung emas maka kita akan menginginkan gunung emas lainnya. Nah, untuk memuaskan hasrat yang demikian itu, seringkali kita justru memisahkan diri dari masyarakat. Meski begitu, tidak ada salahnya jika melakukan hal ini, karena kesuksesan dianggap tidak akan pernah berakhir. Meski begitu, suatu saat manusia bisa merasakan kesendirian di tengah-tengah harta karun yang dimiliknya. 

Saat berusaha untuk membahas kelanjutannya, tiba-tiba mataku tertidur di tengah usahaku untuk memaknainya. Sialnya, kertas ini bukanlah kertas tahan air. Air liurku menetes di atasnya, sehingga beberapa tulisan tak lagi terlihat jelas. Aku menyadari kesalahanku pada keesokan harinya. Penyesalan memang selalu terjadi di akhir perjalanan dan awal mula semua ini adalah pertemuanku dengannya.

Posting Komentar

0 Komentar